Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) akhirnya merevisi target produksi migas pada tahun ini. Hal ini dilakukan menyusul anjloknya harga minyak dunia dan dibarengi dengan wabah virus Corona atau Covid-19.
Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, mengatakan bahwa revisi target produksi sudah dikalkulasikan secara komperehensif. Ia melanjutkan, SKK Migas dan KKKS akan melakukan optimalisasi biaya agar lebih efisien dari sisi biaya operasi dan ekonomis.
“Sesungguhnya target akhir tahun dibanding Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 755 ribu bph sesungguhnya penurunan tidak signifikan hanya 4%. Kalau kita bandingkan target awal tahun (teknis) 735 ribu bph, tidak terlalu signifikan (penurunan). Ini dari effort SKK Migas dan KKKS terus berusaha optimal beroperasi dalam keterbatasan,” kata Dwi dalam video conference, Jumat (17/4/2020).
Dwi bilang, ada lima poin yang secara intensif dibicarakan oleh SKK Migas dan KKKS. Pertama, SKK Migas dan KKKS menyusun strategi optimalisasi untuk jangka panjang dalam rangka mencapai 1 juta BOPD. Kedua, prioritisasi kegiatan (kontribusi produksi dan cadangan) dengan keekonomian yang wajar.
Ketiga, optimalisasi biaya kegiatan yang bersifat sebagai penunjang operasi dan tidak berhubungan langsung dengan produksi. Keempat, optimalisasi dari proses pengadaan dan strategi kontrak. Dan kelima, usulan penundaan biaya-biaya terkait regulasi/Institusi Pemerintah
Selama kuartal I-2020, sambung Dwi, sebagian besar KKKS telah berinisiatif untuk melakukan upaya efisiensi biaya dengan kondisi saat ini. Misalnya, renegosiasi kontrak dan membatalkan kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan produksi.
“KKKS juga terus mengoptimalkan pemanfaatan aset, optimalisasi stok dan intentori secara bersama-sama, dan Integrated Logistic Management,” paparnya.
SKK Migas dan KKKS terus melakukan koordinasi terkait review rencana kerja tahun 2020. Sejumlah kegiatan pun telah dikurangi, misalnya survei sesimik dan pemboran eksplorasi. Hal ini sesuai dengan permintaan KKKS agar diberikannya kelonggaran terhadap jadwal pemenuhan komitmen-komitmen pada proyek tertentu.
SKK Migas juga mengajukan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk usulan pemberian paket stimulus kepada KKKS.
Pasalnya, SKK Migas juga memperkirakan kondisi saat ini membuat investasi di sektor hulu migas akan lebih rendah dari target tahun ini senilai US$13,8 miliar yang per Maret 2020 realisasinya tercatat senilai US$2,87 miliar atau 21 persen dari target.
“Untuk sampai akhir tahun diperkirakan akan ada penurunan investasi karena ada penurunan harga minyak, saat ini masih kita review akan turun berapa,” ungkapnya.
Tahun ini, menurut Dwi, ada 12 proyek hulu migas yang ditargetkan onstream sampai akhir tahun 2020. Sebanyak 4 proyek sudah onstream selama kuartal I-2020, sementara sisanya masih terus dikebut agar dapat direalisasikan tepat waktu.
“Proyek Merakes berpotensi mundur ke tahun 2021, namun tetap akan diselesaikan ditahun ini,” tuntasnya.
Penulis: Riana
Editor: Luki H




























