Jakarta, PONTAS.ID – Pada saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih berupaya untuk menyusun masterplan, analisis bisnis, serta analisa mengenai dampak lingkungan (amdal), untuk usulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) wisata.
Namun Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Budi Wibowo menyebut sudah mulai banyak investor lokal dan asing yang mendaftar masuk untuk pengembangan KEK wisata. Tapi saat ini, para investor diminta bersabar menunggu proses penetapan KEK.
“Mereka (investor) mau bangun di Bantul. Kami minta sabar sambil menunggu proses, kalau KEK wisata jadi silakan masuk karena untuk mengembangkan wisata-wisata,” kata Budi, Selasa (11/6/2019).
Dia menegaskan bahwa Pemprov DIY akan segera menyelesaikan sejumlah persoalan, seperti studi kelayakan dan amdal. Beberapa investor yang mulai melamar untuk pengembangan KEK ini pun masih berorientasi pada master plan dan beberapa teknis lainnya.
Budi menjelaskan, tiga tempat yang masuk dalam KEK wisata ini di antaranya adalah Parangtritis, Tambakboyo, dan juga pantai terintegrasi di Baron, Krakal dan Drini (Gunungkidul). Jika semua sudah jadi maka ada 17 dokumen kelengkapan untuk KEK tersebut.
“Pemda akan mengusulkan menjadi kawasan ekonomi khusus wisata. Hal itu tidak terlalu sulit,” ujarnya.
Adapun langkah menggandeng investor diperlukan karena APBD yang dimiliki hanya berkisar di angka 16,08 persen, dan diperkirakan tidak akan cukup untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Hal ini berlaku juga untuk pengembangan aerotropolis kawasan bandara YIA (Yogyakarta International Airport).
“Kawasan aerotropolis itu juga swasta. Mana mungkin APBD atau Danais (Dana Keistimewaan) kuat untuk membiayai,” tutur dia.
Target 2020
Lebih lanjut Budi mengungkapkan, bahwa Pemprov DIY menargetkan semua KEK wisata tersebut selesai dan bisa beroperasional pada tahun 2020 yang akan datang.
“Tahun ini (2019) kami targetkan semuanya selesai setelah itu akan kami tawarkan pada pihak lain bisa usulan pemerintah atau melibatkan swasta,” katanya.
Dia pun menjelaskan, Parangtritis menjadi satu dari beberapa destinasi yang dikembangkan dalam KEK wisata, karena potensi alam dan budayanya. Kawasan ini nantinya juga bisa dikembangkan menjadi kawasan yang cukup lengkap dan menarik investor.
Diantaranya adalah pengembangan wisata bahari, budaya dan juga kuliner. Gumuk pasir yang dimiliki oleh pantai ini juga akan menjadi kekhasan tersendiri.
Budi menuturkan, nantinya investor bisa masuk dalam berbagai bentuk. Diantaranya adalah hotel, panggung pertunjukan, restoran dan lainnya.
Dikembangkannya wisata berikut dengan kearifan lokalnya, kata Budi lantaran menurut analisis dari LIPI, kalau hanya mendasarkan pada keindahan alam kurang menarik namun tetap ada unsur budaya supaya lebih lestari dan menarik.
Adapun dua KEK wisata lain untuk saat ini masih dalam taraf penjajakan. Sesuai instruksi presiden ada tiga kawasan yang bisa dikembangkan menjadi KEK wisata di Yogyakarta ini. Dia menyebut masih banyak kemungkinan untuk daerah yang berpotensi menjadi KEK wisata.
“Presiden tidak menunjuk tempat dimana saja, tetapi ini adalah langkah untuk menunjang 2 juta pengunjung. Wilayah Jogja, Solo, Semarang (Joglosemar) harus merespon itu,” ujar dia.
Jika usulan KEK bisa ditetapkan presiden, maka hal ini bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di suatu daerah. Karena, mesin pertumbuhan ini bukan hanya yang bersifat infrastruktur, tetapi juga bersifat pengembangan kawasan.
Penulis: Risman Septian
Editor: Stevanny




























