Atasi Kemacetan, Pemerintah Kebut Proyek FO Manahan Solo

Pembangunan Fly Over (FO) Manahan Solo bertujuan mengatasi kemacetan akibat adanya perlintasan sebidang rel kereta Solo-Yogyakarta

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini tengah menyelesaikan pembangunan Fly Over (FO) Manahan di Kota Solo yang bertujuan mengatasi kemacetan akibat adanya perlintasan sebidang rel kereta Solo-Yogyakarta.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan FO Manahan ditargetkan rampung pada bulan Oktober 2018.

“Per 6 Juni 2018, progres konstruksi Fly Over Manahan sepanjang 600 meter dengan lebar 9 meter ini sesuai dengan rencana yakni 26 persen. Fly Over ini akan memperlancar arus kendaraan dari Jl. Adi Sucipto dan Jl. MT. Haryono ke arah Jl. Dr. Moewardi dan sebaliknya,” kata Basuki melalui keterangan resminya kepada PONTAS.id, Jumat (29/6/2018).

Proyek ini kata Basuki, dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VII, Ditjen Bina Marga bekerjasama dengan Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang PUPR menggunakan teknologi Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMP).

Lebih Cepat
Teknologi CMP ini kata Menteri Basuki, merupakan pengembangan teknologi timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang. Teknologi yang sama pernah digunakan sebelumnya oleh Kementerian PUPR dalam membangun Fly Over Antapani di Kota Bandung, Jawa barat yang diresmikan tahun 2017 silam.

“Kelebihan CMP adalah masa konstruksi yang lebih cepat 50 persen jika dibandingkan untuk konstruksi beton. Apabila menggunakan konstruksi beton butuh waktu 12 bulan, menggunakan teknologi CMP hanya memerlukan 6 bulan,” terang dia.

Selain lebih cepat dari sisi waktu pengerjaannya lanjut Basuki, teknologi CMP juga lebih efisien dari sisi pembiayaan. Pelaksanaan konstruksi CMP juga tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan sehingga memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi.

“Kelebihan CMP lainnya memiliki nilai estetis sehingga dapat menjadi suatu landscape dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan. Konsumsi bahan alam dalam konstruksi CMP jauh lebih rendah daripada konstruksi dengan teknologi beton sehingga ramah lingkungan,” kata Menteri Basuki.

Editor: Hendrik JS

Previous articleDPR Minta Jangan Salahkan Kondisi Eksternal Terus Soal Ekonomi Terpuruk
Next articlePanen Padi Super Hasil Pengembangan Teknologi Nuklir