JAKARTA, PONTAS.ID — Kampung Boncos, Palmerah, Jakarta Barat, kembali menuai sorotan. Kawasan padat penduduk yang selama bertahun-tahun dicap sebagai salah satu titik peredaran narkoba di Jakarta itu tak kunjung lepas dari operasi pemberantasan narkotika.
Beberapa tahun terakhir, misalnya, Polres Metro Jakarta Barat mengamankan 46 orang dalam penggerebekan di kawasan tersebut. Sebanyak 42 orang di antaranya disebut positif narkoba.
Penggerebekan juga disebut rutin dilakukan jajaran Polsek Palmerah. Dalam sejumlah operasi, petugas dikabarkan mengamankan beberapa orang yang diduga terlibat penyalahgunaan maupun peredaran narkoba.
Namun, di balik operasi yang terus dilakukan, muncul pertanyaan dari warga: mengapa peredaran narkoba di Kampung Boncos seolah tak pernah benar-benar berhenti?
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut aktivitas transaksi narkoba masih berlangsung meski operasi penertiban berulang kali dilakukan. “Kami resah, bang. Tiap malam masih ada yang transaksi. Kalau digerebek, besoknya buka lagi,” ujarnya
Keresahan tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan serius. Di tengah masyarakat beredar isu bahwa aktivitas peredaran narkoba di sejumlah titik Kampung Boncos diduga dapat bertahan karena adanya pihak tertentu yang memberikan perlindungan.
Nama oknum di lingkungan Polsek Palmerah bahkan disebut-sebut warga dalam isu tersebut. Warga menduga adanya praktik pemberian “jatah” kepada oknum tertentu agar aktivitas peredaran dapat terus berjalan.
Namun, dugaan tersebut belum terbukti secara hukum. Belum terdapat bukti yang dapat memastikan keterlibatan oknum kepolisian, maupun laporan resmi yang menyatakan adanya penerimaan uang dari jaringan narkoba tersebut.
Justru karena tidak adanya kepastian itulah, isu tersebut menjadi semakin sensitif di tengah warga. “Kalau kami lapor ke Polsek, lapornya ke siapa? Wong katanya mereka dapat jatah juga,” kata warga lainnya.
Pertanyaan publik pun menjadi sederhana, jika pemberantasan terus dilakukan, mengapa narkoba masih dapat kembali beredar di lokasi yang sama?
Polisi selama ini menyatakan penggerebekan Kampung Boncos merupakan bagian dari upaya pemberantasan dan pencegahan peredaran gelap narkotika. Karena itu, munculnya dugaan keterlibatan oknum harus dibuktikan secara objektif, bukan berhenti sebagai rumor di tengah masyarakat.
Jika benar tidak ada keterlibatan aparat, maka transparansi dan penegakan hukum terhadap jaringan narkoba perlu semakin diperkuat. Sebaliknya, apabila nantinya ditemukan oknum yang bermain atau menerima keuntungan dari aktivitas ilegal tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar narkoba, melainkan dugaan pengkhianatan terhadap tugas penegakan hukum.
Kampung Boncos membutuhkan lebih dari sekadar penggerebekan. Warga membutuhkan kepastian bahwa pemberantasan narkoba dilakukan secara konsisten dan tidak tebang pilih. Sebab, persoalannya kini bukan hanya siapa yang menjual narkoba, tetapi juga mengapa bisnis ilegal itu terus bisa hidup setelah berkali-kali diberantas.
Hingga berita ini ditayangkan, Kapolri, Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. belum bereaksi dan belum memberikan tanggapan. PONTAS.id sudah meminta tanggapan melalui media perpesanan WhatsApp kepada Kapolri terkait dugaan keterlibatan oknum di institusinya.
Hingga kini belum diperoleh keterangan resmi dari Kapolri. Konfirmasi dan ruang klarifikasi tetap terbuka bagi pihak kepolisian untuk memberikan penjelasan serta memastikan kebenaran informasi tersebut.
Penulis: Rahmat Mauliady
Editor: F V Cahya




























