Sergai, PONTAS.ID – Nasib malang dialami Muhammad Rifky Daulay bocah 10 tahun warga Desa Pekan Sialangbuah Kecamatan Teluk Megkudu, Sergai yang telah divonis menderita Tumor Otak sejak September 2021 lalu.
Ia divonis menderita Tumor Otak setelah sebelumnya mendapat penanganan dari RS Grand Medistra Lubuk Pakam dan RS Melati Perbaungan. Nasib Rifky yang masih duduk di kelas V Sekolah Dasar saat ini hanya terbaring sembari menahan rasa mual dan sakit di kepalanya.
Ayah Rifky, Khairul Daulay mengisahkan awal mula putra tercintanya mengidap Tumor Otak. “Awalnya kerap diserang sakit kepala yang begitu sakit, ditambah sering muntah, khawatir dengan hal ini berbagai upaya dilakukan Khairul untuk mencari biaya guna mengobati anak saya,” kata Khairul saat ditemui, Senin (5/8/2022).
Setelah mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan, lalu Rifky dibawa ke rumah sakit Sultan Sulaiman di Desa Firdaus kecamatan Seirampah. “Tetapi karena keterbatasan peralatan di rumah sakit milik Pemkab Sergai itu, akhirnya Rifky dibawa ke RS Medistra di Lubuk Pakam guna CT-Scan,” sambung Ayah Rifky.
“Hasilnya sungguh mengejutkan, Rifqy divonis oleh tim medis menderita suspect craniophayngioma (DD/Adenoma Hipofise) + Hydrocepalus dengan ukuran 12×22 mm,” kata Khairul.
Masih kurang yakin dengan hasil yang diterima dari RS Medistra yang memvonis anaknya Rifqy menderita Tumor Otak. Sekitar 2 bulan kemudian tepat di bulan Desember 2021, Khairul kembali melakukan CT-Scan secara mandiri ke RS Melati di Perbaungan dengan biaya Rp.800 ribu. Namun hasilnya tetap sama, bahkan Tumor Otak atau craniophayngioma dengan ukuran yang semakin bertambah 32,7×32,8 mm.
Khairul mengaku tak bisa tidur memikirkan hal tersebut, sebab menurut keterangan dari RS, harus segera dilakukan operasi dengan biaya 250 juta rupiah untuk mengangkat tumor di kepala bocah 10 tahun tersebut.
“Kami berharap dia dioperasi Gamma Knife, untuk mengurangi resiko. Kalo konvensional ditanggung BPJS namun kami takut resikonya sangat tinggi, karena kondisi dia masih kecil,” ungkap Khairul sambil berlinang air mata.
Ia sangat menyedihkan kondisi Tumor yang bersarang di kepala anaknya sudah menjalar dan menganggu penglihatan Rifqy, hingga menghambat segala aktivitasnya termasuk sekolah.
“Dengan penglihatan dia itu, aktivitasnya terganggu, sekolahpun harus didampingi, dan hanya setengah hari saja. Dan sebelumnya juga dia setahun sudah tidak masuk sekolah,” tambah Khairul.
Karena keterbatasan biaya, saat ini hanya obat herbal saja yang dapat diberikan Khairul dan isterinya Awaliyah, untuk mengurangi sakit di kepala karena hidup mereka berharap dari penjuala jus 5 ribu rupiah.
“Kondisinya, saat ini mata sebelah kanan sudah tidak bisa melihat, sering sakit kepala. Obat yang dimakan cuma herbal saja saat ini karena biaya juga,” ucap Khairul.
Dengan kondisi ekonomi yang tak memadai, Khairul berharap ada para Dermawan yang mau membantu untuk biaya operasi sang anak yang saat ini tengah merasakan sakit di kepalanya itu.
Khairul juga mengaku, telah berupaya bermohon ke pihak ketiga melalui salahsatu aplikasi open donasi untuk membantu biaya operasi anaknya tersebut.
Penulis: Andy Ebiet
Editor: Ahmad Rahmansyah
















