Gelar Jumpa Pers kasus Ardi-Nia, Begini Kejanggalan Polda Metro Jaya

Ilustrasi tahanan wanita

Jakarta, PONTAS.ID – Pasangan suami-istri dari figur publik AAB alias Ardi (42) dan NR alias Nia (31) menjadi tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan urine keduanya positif mengandung Metamfetamin.

Hal ini disampaikan, Kabid Humas Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus saat menggelar konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Kamis (8/7/2021).

Namun dari pantauan PONTAS.id yang mengikuti perkembangan kasus ini sejak pagi, terlihat beberapa kejanggalan dari jajaran Polda Metro Jaya dalam membuka kasus ini kepada publik.

Kejanggalan itu antara lain:

  1. Selama masa pandemi, Polda Metro Jaya kerap menggelar jumpa pers di ruang terbuka dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Namun, dalam kasus ini, Polda Metro Jaya memilih menggelar jumpa pers ruang tertutup yakni di lantai 3 Mapolres Metro Jakarta Pusat;
  2. Dalam pelaksanaan jumpa pers, Polda Metro Jaya tidak menghadirkan kedua tersangka, yakni pasangan suami istri yang diciduk dari rumahnya pada Rabu (7/7/2021) malam. Padahal, biasanya, Polda Metro Jaya selalu menghadirkan tersangka di hadapan wartawan saat menggelar jumpa pers;
  3. Polda Metro Jaya juga terkesan membatasi wartawan dengan dalih harus menjalani Swab Test sebelum memasuki ruang jumpa pers. Anehnya, pengakuan petugas di Mapolres Metro Jakarta Pusat, alat Swab Test yang disediakan hanya 100 sehingga banyak wartawan yang kecele tidak bisa mengikuti karena keterbatasan alat Swab Test. Dari hitungan PONTAS.id secara kasar di lokasi, wartawan yang mengikuti jumpa pers tidak sampai 100 orang.
  4. Tak sampai di situ, Kombes Yusri Yunus yang dikenal tegas, bicara blak-blakan kepada wartawan, mendadak berubah dengan menolak berkomentar saat dicegat wartawan usai jumpa pers yang sangat singkat itu, “Maaf ya kawan-kawan, kami duluan ya,” kata Yusri meninggalkan wartawan yang ingin melanjutkan pertanyaan.

Empat Tahun Penjara
Sebelumnya, dalam jumpa pers itu, Yusri Yunus mengatakan pasangan suami-istri Ardi dan Nia, menjadi tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan urine keduanya positif mengandung Metamfetamin.

“Dilakukan tes urine menyatakan positif mengandung meta atau sabu-sabu,” kata Yusri di Mapolres Metro Jakarta Pusat.

Mereka ditangkap di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, setelah polisi menangkap seorang tersangka lainnya berinisial ZN (43), laki-laki yang bekerja sebagai supir keluarga pasangan itu.

Setelah menggeledah mobil yang dikendarai ZN, polisi menemukan barang bukti berupa satu klip sabu-sabu dengan berat kotor sebanyal 0,78 gram, kemudian satu buah bong atau alat hisap sabu.

“Saat digeledah ZN ini ditemukan 1 klip narkotika jenis sabu-sabu, kemudian diinterogasi ternyata yang bersangkutan mengakui barang tersebut adalah barang milik saudari Nia. Itulah kemudian penyidik melakukan penggeledahan di kediaman Nia dan menemukan tersangka sedang berada di rumah,” ujar Yusri.

Yusri mengatakan polisi menemukan bong atau alat hisap sabu lainnya dari hasil penggeledahan rumah milik Nia.

Polisi kemudian melakukan pendalaman kepada yang bersangkutan, sehingga membuat tersangka Nia mengakui bahwa suaminya Ardi juga menggunakan sabu secara bersama-sama. “Mereka (Ardi dan Nia ) menggunakan sabu bersama-sama. Tapi saat di TKP, AAB enggak ada, ZN dan Nia dibawa,” tutur Yusri.

Yusri mengatakan tersangka dikenakan pelanggaran pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dimana sanksi pidana maksimal empat tahun penjara. “(Pasal) 127 UU No 35 tahun 2009, ini masih awal karena kami masih baru saja, kami nanti pengembangan dari perkara ini,” kata Yusri.

Penulis: Heru Mindarto
Editor: Ahmad Rahmansyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here