Aroma Korupsi 50T di TPPI Olefin Complex, CERI Desak Ahok Turun Tangan

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Jakarta, PONTAS.ID – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) didesak menurunkan tim audit atas pelaksanaan tender Design Build Competition (DBC) TPPI Olefin Complex di PT Kilang Pertamina Internasional.
Desakan ini dilontarkan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, menyusul kejanggalan-kejanggalan dalam proses pelaksanaan tender tersebut.

“Kami menilai, proses pengadaan design build competition (DBC) Kilang TPPI Olefin Complex oleh Tim Tender PT Kilang Pertamina Internasional tidak mematuhi prinsip-prinsip pengadaan dan etika pengadaan,” ungkap Yusri, dalam keterangan tertulisnya kepada PONTAS.id, Selasa (29/6/2021).

Selain tidak sesuai dengan UU Nomor 2/2017 tentang jasa konstruksi dan PP Nomor 22/2020 tentang pelaksanaan UU Nomor 2/2017 tentang jasa konstruksi, pengadaan ini juga kata Yusri tidak sesuai atau menyimpang dari ketentuan yang termuat di dalam dokumen pra kualifikasi, dokumen penawaran, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku secara umum baik nasional maupun internasional.

“Lihat saja pada pelaksanaan isi dokumen pra kualifikasi lelang. Pada dokumen disebutkan peserta lelang mesti memiliki pengalaman FEED (Front End Engineering Design) untuk olefin cracker. Hyundai Engineering Co., Ltd (HEC) sebagai leader consortium tidak memiliki pengalaman pekerjaan FEED olefin cracker, tetapi dinyatakan lulus oleh tim tender,” ungkap Yusri.

Tak Penuhi Syarat
Celakanya, kata Yusri, menurut tim tender, HEC sudah memenuhi syarat, karena melampirkan agreement contract pada project olefin cracker Kazakhstan KLPE. “Padahal, agreement bukanlah merupakan contract pelaksanaan,” kata Yusri.

Karut-marut pelaksanaan tender TPPI Olefin Complex, menurut Yusri juga kentara terlihat pada langkah tim tender menggunakan buku pedoman pengadaan pekerjaan konstruksi terintegrasi project pembangunan kilang dan petrokimia No. A05-001/V10200/2020-S9 revisi ke-0 tanggal 18 Februari 2020.

“Namun anehnya, buku pedoman tersebut tidak diberikan kepada peserta dan tidak diberikan link download kepada peserta tender sehingga peserta tender tidak mengetahui tata cara pengadaan pekerjaan ini dengan baik,” ungkap Yusri.

Sementara itu, lanjut Yusri, kejanggalan juga terlihat pada proses penawaran dua tahap yang ditetapkan, di mana dokumen pertama berisikan data administrasi dan proposal teknis dan yang kedua berisikan proposal harga.

“Dokumen kedua hanya disampaikan oleh penawar bila dinyatakan telah lulus evaluasi teknis atau melewati nilai ambang batas (passing grade) 80,” terangnya.

Akal-akalan Metode Evaluasi
Lebih lanjut Yusri membeberkan, metode yang digunakan dalam tender ini, seperti yang ditetapkan dalam ITB pada angka 26.7.4, menyebutkan bahwa pembukaan penawaran komersial paket DBC Tahap II, dilakukan sekaligus pada dua skor teknis terbaik dari peserta tender.

Kemudian dari dua harga penawaran tersebut didapatkan harga terendah yang kemudian dibandingkan dengan HPS atau OE.

“Celakanya, harga terendah tersebut lalu dinegosiasikan ke harga peserta lainnya yang telah dibuka dokumennya. Jika Peserta lainnya yang telah dibuka dokumennya dapat menerima harga penawaran terendah tersebut, maka penawaran peserta lainnya yang belum dibuka dokumen penawarannya di kembalikan dan di lengkapi dengan berita acara,” ungkap Yusri.

Padahal, lanjut Yusri, menurut ketentuan yang berlaku pada umumnya di tingkat nasional dan internasional, serta menurut pedoman pengadaan Guidelines dari WorldBank dan ADB, dan juga peraturan jasa konstruksi yang berlaku di Indonesia tidak seperti itu.

“Jika metode penyampaian penawaran dua tahap, maka metode evaluasinya dilakukan dengan cara mengundang penawar yang dinyatakan hasil evaluasi dan administrasi DBC teknis memiliki Passing Grade lebih tinggi dari 80 untuk memasukkan Penawaran komersial DBC tahap kedua,” bebernya.

“Bagi penawaran harga terendah dinyatakan lah sebagai pemenang tender. Dan di dalam tender tidak diperbolehkan negosiasi harga,” tegas Yusri.

Kemudian, tak kalah penting, sambung Yusri, juga ditemukan tidak konsistennya antara Dokumen Pra Kualifikasi dan Dokumen ITB mengenai penambahan anggota konsorsium.

“Pada dokumen Pra Kualifikasi angka IV.6 huruf e, menyebutkan bahwa apabila anggota konsorsium yang telah dinyatakan lulus prakualifikasi dengan anggota konsorsium yang telah memenuhi persyaratan, maka konsorsium tidak diperbolehkan mengubah keanggotaan konsorsium,” kata Yusri.

Rekayasa Skor
Pada ITB angka 15.2, lanjut Yusri, juga dinyatakan dalam hal konsorsium atau KSO bermaksud mengajukan suatu perubahan, maka pemilik dengan kewenangannya sendiri dapat mempertimbangkan usulan konsorsium.

“Sementara itu, pada sistem Penilaian pada Appendix II Part 2B, di sana diuraikan tentang technical weight factor. Skor pengalaman dari anggota konsorsium diuraikan sangat rendah, yaitu 5% untuk Pengalaman FEED dan 10% untuk Pengalaman EPC,” beber Yusri.

Menurut Yusri, untuk project yang kompleks dan berteknologi tinggi tentunya sangat membutuhkan pengalaman yang banyak dari penyedia jasa sehingga bobot yang dibutuhkan seharusnya lebih besar.

“Hyundai E&C yang tidak memiliki pengalaman EPC untuk olefin complex, tapi hanya pengalaman konstruksi saja pada project Turkmengas olefin complex, dan pada KLPE project yang hanya membuat bentuk proposal project, malah bisa mendapatkan nilai tertinggi. Hal ini merupakan suatu keanehan dalam pembobotan nilai,” beber Yusri.

Kolusi Penyedia Jasa
Sementara itu, kata Yusri,mengenai sistem penawaran harga, dari hasil penyampain penawaran harga dari kedua penyedia jasa yang menjadi pemenang, harga kedua penyedia jasa tersebut sangat mendekati harga Owner Estimate (OE), dan perbedaan harga keduanya memiliki selisih yang sangat kecil yaitu sekitar Rp 700 juta.

“Ada dugaan kolusi dari antara kedua penyedia jasa pemenang tersebut dan dugaan bocoran harga OE dari pemberi jasa,” beber Yusri.

Selain itu tak kalah mengherankan, kata Yusri, harga penawaran selanjutnya, setelah dilakukannya pengumuman komersial, ada yang sedikit aneh dari penawaran harga kedua penawar rangking 1 dan rangking 2.

“Harganya sangat tipis dan hampir sama dan mendekati nilai OE. Ini membuktikan adanya kecenderungan atau dugaan terjadinya persengkongkolan dari kedua calon penyedia jasa yang diduga berpotensi dapat merugikan Pertamina, dan proyek kilang ini bernilai diatas Rp.50 triliun. Jangan main main loh,” kata Yusri mengingatkan.

Hingga berita ini dipublikasi, PT Pertamina (Persero) belum memberikan tanggapan. Pertanyaan yang dilayangkan PONTAS.id kepada Pjs. SVP Corporate Communications & Investor Relations, PT Pertamina (Persero), Fajriyah Usman melalui aplikasi perpesanan WhatsApp, pada Selasa (29/6/2021) belum mendapatkan balasan.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Rahmat Mauliady

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here