Cegah Kontraktor Nakal, Kadis PUPR Tanah Bumbu Turun ke Lokasi Proyek

Tanah Bumbu, ┬áPONTAS.ID – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tanah Bumbu merubah pola guna mencegah adanya upaya kontraktor nakal yang hanya menerima laporan sistim Provisional Hand Over (PHO).

Dibawah komando seorang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Tanah Bumbu, Subhansyah, melaksanakan peninjauan dan langsung tanda tangan.

Dia tak ingin tersandung dengan persoalan hukum, sehingga untuk pelaksanaan pekerjaan harus langsung dilakukan dilokasi dengan menyaksikan hasil pekerjaan.

Termasuk pengukuran bangunan agar sesuai dengan spek bangunan yang telah dibuat Dinas.

Misalnya saja, Kamis (10/6/2021) siang, pembangunan jembatan kayu titian di Pulau Sewangi Kelurahan Batulicin Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu.

Bangunan yang harus lewat laut itu dipantau untuk PHO, kesepakatan finishing pekerjaan dari kontraktor.

Bangunan jembatan sepanjang 151 meter, lebar 1,95 meter dengan anggaran Rp 198 juta, telah selesai dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan.

Bangunan berbahan ulin itu dipantau dan langsung dilakukan pengukuran oleh Plt Kadis PUPR dan PPTK bangunan jembatan titiannya.

“PHO dilapangan langsung kami lakukan untuk menghindari kontraktor nakal,” kata Plt Kadis PUPR Tanbu, Subhansyah.

Usai penghitungan dan pengukuran, penandatangan PHO pekerjaan langsung dilakukan dilokasi pembangunan jembatan.

“Kita lihat bangunnya sudah sesuai, makanya kita tanda tangani,” katanya.

Subhansyah menambahkan, hal Ini sudah dilakukan dibeberapa titik yang sudah melaksanakan PHO pekerjaan.

“Ini komitmen kami yang tak ingin hanya menerima laporan tanpa ke lokasi,” tambahnya.

Sementara itu, PPTK Jembatan Titian, Anwari Delmi mengatakan, pembangunan jembatan tersebut merupakan proyek Penunjukan Langsung, dengan anggaran sebesar Rp 198 juta.

“Ini usulan masyarakat untuk kegiatan pesta adat di kampung ini dan sekarang sudah selesai,” katanya.

Kontraktor Pelaksana, Dirut Cv Lina Jaya Abadi, Abdus Samad mengaku kesulitan menyelesaikan pekerjaan karena kondisi alam/ pasang surut air laut. Selain itu terkendala mendapatkan bahan baku kayu ulin.

“Pasalnya Ulin sudah langka sehingga sulit ditemukan. Saya bahkan kumpulkan selama 3 bulan untuk memenuhi kebutuhan jembatan ini,” ungkapnya.

Penulis: Zainal Hakim
Editor: Fajar Virgyawan Cahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here