Belva Mundur Jadi Stafsus Jokowi, PAN: Polemiknya Tak akan Selesai

Adamas Belva
Adamas Belva

Jakarta, PONTAS.ID – Adamas Belva Syah Devara resmi mengundurkan diri dari jabatan stafsus Presiden Jokowi. Belva mengundurkan diri per 15 April lalu.

Keputusan untuk mundur ini diambil setelah muncul polemik terkait isu konflik kepentingan yang ramai dibincangkan publik dalam beberapa hari terakhir.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Fraksi PAN DPR, Saleh Partaonan Daulay menghargai keputusan mundurnya Adamas Belva dan menilai itu sebagai hak dia (Belva).

“Dalam hal ini, presiden telah memberikan persetujuan atas permohonan mundur tersebut,” kata Saleh melalui ketetangan tertulisnya yang diterima wartawan, Rabu (22/4/2020).

Menilik isi surat terbuka disampaikan Belva, anggota Komisi IX DPR itu menilai, kalau alasan pengunduran diri lebih pada menghindari asumsi/persepsi bervariasi tentang posisinya sebagai staf khusus presiden. Di dalam surat pengunduran diri itu dijelaskan ada kaitannya dengan proses verifikasi mitra Kartu Prakerja.

“Di luar itu, isi surat lebih pada ucapan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah memberikan kesempatan kepadanya sebagai staf khusus presiden. Namun demikian, pengunduran diri itu belum tentu serta merta akan menghilangkan polemik dan perdebatan di publik,” kata Saleh.

Sebab, dirinya melihat polemik itu sendiri muncul sebagai respon terhadap pemilihan Ruangguru yang ditunjuk sebagai mitra pelaksana Kartu Prakerja. Sebetulnya semua biasa saja, tetapi menjadi luar biasa karena Belva adalah CEO Ruangguru itu sendiri.

“Orang menganggap itu tidak pantas. Ada kesan bahwa penunjukan itu tidak objektif. Dan menurut saya kesan itu wajar. Sebab, pada saat proses penunjukan, Belva masih berstatus aktif sebagai Staf khusus Presiden,” ucapnya.

Kata Saleh, ada temannya bilang, sayang sekali dia (Belva) mundur. Katanya, kalaupun mundur, tetap saja polemiknya tidak selesai. Bahkan, orang akan mengatakan bahwa dia hanya mundur beberapa langkah untuk maju triliunan langkah.

“Bukankah tidak sebaiknya tidak mundur? Sejak awal, orang kan tidak mempersoalkan soal posisinya sebagai staf khusus. Yang dipersoalkan adalah soal proses penunjukan lembaganya sebagai mitra kartu prakerja. Kalau itu masalahnya, bukankah sebaiknya prosesnya yang dijelaskan secara terbuka. Dengan begitu, semua orang menilai bahwa itu wajar. Karenanya, tidak perlu dipersoalkan,” ujarnya.

Kalau mundur seperti ini, bisa jadi orang malah menyangka bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Bahkan, ketidakwajaran itu ditunjukkan oleh sikap Belva sendiri. Buktinya tidak wajar, dia mengundurkan diri.

‘Kalau semua sesuai aturan, kan tidak perlu mengundurkan diri. Apalagi, dia mengatakan bahwa keputusan mengundurkan diri itu adalah keputusan yang berat,” tandas Saleh.

Hal senada juga diungkapkan Ekonom Indef, Bhima Yudhistira sempat menantang Belva untuk debat terbuka.

Bhima mengapresiasi langkah Belva Devara yang mundur dari posisi staf khusus presiden. Bhima melihat langkah tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban milenial untuk lebih profesional dalam menjalankan bisnisnya.

“Belva telah menunjukkan bahwa Milenial harus memiliki integritas dan bisa menghindari konflik kepentingan yang muncul ketika berada dalam posisi di pemerintahan,” kata Bhima.

Namun, Bhima menegaskan permasalahan terkait Kartu Prakerja tidak serta merta tuntas dengan mundurnya Belva.

Sebab, masih perlu dilakukan penyidikan terkait MoU mitra pelaksana Kartu Prakerja yang dilakukan sebelum Peraturan teknis dikeluarkan Pemerintah.

Selain itu, Kartu Prakerja juga dinilai tidak menjawab persoalan krisis yang dihadapi, bahwa korban PHK lebih membutuhkan bantuan berupa bantuan langsung tunai dibandingkan dengan pelatihan online.

“Dibandingkan memberikan pelatihan online, lebih baik pemerintah memberikan subsidi internet selama 3-5 bulan kepada seluruh rakyat Indonesia sehingga masyarakat bisa mengakses konten pelatihan serupa di Youtube dan platform gratis lainnya,” kata dia

Bhima pun berharap staf khusus milenial lainnya yang memiliki konflik kepentingan antara bisnis dan jabatan publik untuk mengikuti jejak Belva.

Sebelumnya, Belva mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya, Selasa (21/4/2020). Informasi tersebut mulanya disampaikan Belva melalui akun instagram pribadinya, @belvadevara dan juga surat terbuka kepada publik.

Belva yang juga CEO ruangguru tersebut mengaku telah membuat surat pengunduran dirinya sejak 15 April 2020, dan disampaikan kepada Jokowi dua hari kemudian.

“Telah saya sampaikan dalam bentuk surat kepada Bapak Presiden tertanggal 15 April 2020, dan disampaikan langsung ke Presiden pada tanggal 17 April 2020,” ujar Belva kemarin.

Kartu Prakerja diketahui menuai kritik karena pelibatan sejumlah platform digital dalam pelaksanaannya.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Riana

Previous articlePemkab Asahan Apresiasi Polri Bagi Sembako untuk Warga Kurang Mampu
Next articleProduksi Vaksi Corona, BUMN Farmasi Bakal Gandeng Perusahaan Cina