Jakarta, PONTAS.ID – Dalam hitungan hari, masa pemerintah menteri Kabinet Kerja periode 2014-2019 akan segera berakhir. Menjelang masa kerjanya habis, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, pun membeberkan beberapa capaian dan tantangan di sektor energi. Salah satunya adanya peningkatan rasio elektrifikasi yang kini menjadi 98,9 persen dari sebelumnya 85 persen.
Jonan menargetkan, ke depan rasio elektrifikasi bisa mencapai 99,9 persen di akhir 2019 dan di 2020 100 persen wilayah Indonesia dapat menikmati listrik.
“Memang tambah lama, rasio elektrifikasi tambah sulit daerahnya. Tapi mudah-mudahan akhir tahun ini bisa 99,9 persen lah. Harapan kami nanti 2020 bisa 100 persen nikmati penerangan,” kata Jonan, di acara IDX Channel Economic Outlook bertema ‘Menuju Kemandirian Energi Nasional’ di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/10/2019).
Kedua, capaian yang besar adalah pembangunan BBM satu harga. Sejak 2017-2019 sudah terbangun 170 titik SPBU BBM Satu Harga. Jumlah ini lebih banyak dari target yang diminta Presiden Joko Widodo sebanyak 160 SPBU di 160 kecamatan.
Pembangunan ini, kata Jonan bukan tanpa halangan. Sebab makin ke sini, makin banyak daerah pelosok yang belum terbangun. Kata Jonan, ada 1000 kecamatan di daerah pelosok yang belum menikmati BBM Satu Harga.
“Makanya saya usulkan ke Pak Presiden nanti sampai 2024 minimal 330 titik. Jadi total sampai 500 titik. Itu daerah lebih remote yang kita usahakan ke depannya bisa tercapai,” jelas dia.
Kemudian, penggunaan energi terbarukan (renewable energy) dari sisi BBM bisa langsung menjadi 20 persen. Hal ini bisa dicapai dengan adanya BBM biodiesel 20 persen (B20) dimana hanya menggunakan BBM jenis diesel dua pertiganya dan sisanya dari minyak sawit.
“Nah nanti 1 Januari diterapkan B30, ya jadi 20 persen. Jadi mudah-mudahan 23 persen di Paris agreement mestinya bisa,” tandas Jonan.
Kemudian, Jonan mengatakan, pemerintah punya pekerjaan rumah agar PLN mau lebih banyak bangun pembangkit listrik dengan sumber energi yang bersih, tidak lagi menggunakan sumber fosil seperti minyak dan batu bara.
“Tantangannya adalah PLN harus lebih terbuka terhadap upaya pembangunan listrik dari renewable. Terserah PLN mau bangun sendiri atau dari swasta,” ujarnya.
Penggunaan teknologi yang bisa membuat biaya produksi jadi lebih hemat juga dituntut dalam pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan. Jika biaya produksi listrik di hulu murah, maka harga listrik di hilir murah alias tidak usah naik.
Jonan bilang, masyarakat di kota besar selalu perjuangkan energi bersih. Tapi yang menjadi kuncinya adalah biaya produksinya efisien agar harga listriknya murah.
“Ini tugas kita bersama bagaimana manfaatkan energi bersih supaya tetap terjangkau. Masyarakat tertarik. Yang diusahakan pemerintah supaya harga listriknya enggak naik,” tutur dia.
Capaian lainnya, kata Jonan adalah berhasil mencaplok 51 persen saham PT Freeport Indonesia. Di sektor migas, berhasil mendapatkan blok-blok besar seperti Rokan.
Penulis: Riana
Editor: Stevanny



























