Sergai, PONTAS.ID – Bupati Serdang Bedagai (Sergai) menjadi nara sumber dalam acara “How to strengthen potential of religious Actors in Promoting Peace” yang diikuti oleh 10 negara di Zanzibar Beach Resort Hotel.
Acara yang diikuti peserta dari Tanzania, Zanzibar, Indonesia, Jerman, Kenya, Kamerun, Rwanda, Kongo, Pilippina, Sri Lanka dan Namibia ini dibuka oleh Wakil Presiden Kedua Pemerintahan Revolusioner Zanzibar, Ambassador Seif Ali Iddi.
Hal ini disampaikan Bupati kepada Kadis Kominfo Sergai, Akmal melalui aplikasi perpesanan WhatsApp dari Zanzibar, Sabtu (21/9/2019) waktu setempat.
“Indonesia sedang darurat sampah plastik, oleh karenanya kita harus memulainya dari sekarang, mencontoh apa yang dilakukan oleh pemerintah Tanzania dan Zanzibar melarang adanya sampah plastik,” kata Bupati.
Di negara tersebut kata Soekirman, siapa saja yang membuang sampah plastik sembarangan dan tertangkap, akan didenda sangat mahal.
“Ini tentu menjadi tanda tanya besar bagaimana hal tersebut bisa dilakukan? Jika memungkinkan hal semacam inilah yang perlu kita terapkan di Sergai, bagaimana memerangi sampah plastik,” harap Soekirman.
Saat mengunjungi publik market atau pasar rakyat kata Soekirman memang terlihat ada sampah plastik, sekalipun untuk kantong pembungkus. Toko dan kedai hanya hanya menyediakan kantong kertas (paper bag) dengan alasan bisa terurai (disposable).
“Kelihatannya sederhana, ternyata dampaknya luar biasa. Dimana-mana publik area seperti pasar, terminal, sekolah, pantai, hotel tidak terlihat sampah plastik, kantong plastik, meskipun di beberapa tempat pinggir kota masih terlihat ada botol plastik tercecer di tepi jalan,” kata Soekirman yang didampingi Ketua TP PKK Marliah Soekirman.
Menariknya, lanjut Soekirman meskipun “ban plastic waste” atau larangan sampah plastik ini merupakan Undang-undang (UU) inisiatif Pemerintah dan DPR Tanzania atas desakan para pecinta lingkungan atau komunitas lingkungan di Zanzibar sekitar lima tahun lalu.
Gerakan ini akhirnya menjadi gerakan bersama elemen masyarakat dan organisasi keagamaan dan pecinta lingkungan inilah yang membuat Zanzibar dan Tanzania mengharamkan sampah plastik.
Zanzibar dengan penduduk sekitar 1,5 juta jiwa merupakan negara semi otonomi dan yang 95 persennya beragama Islam. Namun tingkat toleransi dan interrelasi antar agama dinegara ini merupakan tertinggi di dunia. Negara bekas Kesultanan Oman pada abad ke-18, kini di bawah Republik Tanzania memberi ruang bebas bagi warganya memeluk agama manapun.
“Saling tolong menolong dalam menjawab permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Itu sebabnya organisasi Gereja United Evangelical Mission (UEM) di Jerman, menyelenggarakan Conference International Interreligious Action for Peace and Inclusive Communities,” kata Soekirman.
Penulis: Andy Ebiet
Editor: Pahala Simanjuntak




























