Jakarta, PONTAS.ID – Anggota DPR Fraksi PDIP, Maruarar Sirait menegaskan jika terpilihnya pimpinan di partai itu berdasarkan ideologi, negarawan, solidarity maker (menyatukan), prestasi, track record, rekam jejak, aspirasi rakyat dan mengetahui kebutuhan rakyat.
“Nah, figur Megawari Soekarnoputri memenuhi unsur itu. Sehingga meski kini usinya sudah 72 tahun, PDIP masih membutuhkan ibu Megawati,” kata pria akrab disapa Ara dalam diskusi Dialetika Politik dengan tema ‘Regenerasi Parpol, Hanya Basa Basi atau Harga Mati’ di media center, gedung DPR, Kamis (20/6/2019).
Selain Maruarar Sirait hadir juga Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat, Hinca Panjaitan.
Karena itu, Ara melanjutkan, meski Kongres IV PDIP akan dipercepat atau tidak, pada 8 Agustus 2019 mendatang, fungsionaris, kader PDIP dan rakyat di seluruh Indonesia kata Maruarar, tetap mendukung Ibu Megawaiti sebagai Ketua Umum PDIP.
Hal itu bukan berarti tidak ada kaderisasi. Justru lanjut Maruarar, PDIP itu menempatkan figur tersebut berdasarkan beberapa kriteria tersebut, dan saat ini sangat dibutuhkan di tengah menguatnya politik identitas, radikalisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
“Setiap parpol punya aturan, mekanisme dan tradisi sendiri. Ibu Mega teruji dan komitmen sebagai petarung dalam memperjuangkan ideologi negara dan NKRI. Bahkman bersama Gus Dur sebagai solidarity maker untuk demokrasi 1998,” kata Anggota Komisi XI DPR ini.
Dengan demikian kaderisasi tetap berjalan dan tidak serta-merta orang mudah menjadi pimpinan partai. Maruarar menyontohkan saat Megawati mengajukan Jokowi sebagai capres 2014 dan 2019, tentu dengan pertimbangan tersebut.
“Jokowi dua kali menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan terpilih menjadi Presiden RI dua periode (2014 – 2024). Jadi, ideologi, solidarity maker, track record, prestasi dan aspirasi rakyat serta memahami kebutuhan rakyat, yang menjadikan Jokowi terpilih. Juga Tri Rismaharini (Risma) menjadi Walikota Surabaya dua periode,” tambah anak dari politikus senior Sabam Sirait ini
Menurut Maruarar, bisa jadi nanti Ibu Risma diajukan PDIP sebagai Cagub DKI Jakarta, pada Pilkada 2021 berhadapan dengan Anies Baswedan, jika Anies tetap maju kembali. “Maju pilgub DKI. Jadi, kaderisasi di PDIP itu jelas terukur,” pungkasnya.
Sementara itu Hiruk-pikuk politik di internal Partai Demokrat (PD) pasca Susilo Bambgang Yudhoyono (SBY) terus bergulir. Khususnya tentang siapa yang akan menggantikan pucuk pimpinan partai tersebut. Ada nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Adhie Baskoro Yudhyono (Ibas) dan Hinca Panjaitan.
Sama seperti PDIP, Hinca yang juga Sekjen Partai Demokrat ini tak mau terus-terang jika AHY yang kini menjadi Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) itu disiapkan untuk memimpin PD 2020.
“PD mengalir saja. Sama dengan PDIP. PD konsisten dengan aturan siklus lima tahunan bahwa Kongres PD di Bali memutuskan Kongres digelar pada Mei 2020. Jadi, tak ada Kongres Luar Biasa (KLB),” tegas Hinca yang juga Anggota Komisi III DPR ini.
Penulis: Luki Herdian
Editor: Risman Septian




























