Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah RI pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak pengusaha yang tergabung dalam Saudagar Bugis Makassar, masyarakat, dan pemerintah daerah (pemda) untuk mengembangkan potensi wisata yang dimiliki Sulawesi Selatan (Sulsel).
Ajakan tersebut disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Syafruddin. Namun dia mengingatkan, bahwa pengembangan wisata itu harus memadukan antara kearifan lokal dan kemajuan teknologi.
“Mari kita membangun Sulawesi Selatan dengan segala potensi pariwisatanya sebagai leading sector pembangunan berbasis kearifan lokal untuk meraup devisa sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” kata Syafruddin dalam keterangan tertulis, Senin (17/6/2019).
Hal tersebut diungkapkan Syafruddin saat membuka Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XIX 2019 di Makassar, Sulsel. Dia menjelaskan, dalam era globalisasi saat ini banyak negara yang berkompetisi mengembangkan destinasi wisata yang dipadukan dengan teknologi.
“Arab Saudi kini tidak lagi mengandalkan minyak sebagai pendapatan utama, mereka telah merintis megaproyek neom sebagai kota masa depan dan wisata sebagai sumber utama devisanya. Begitu pula dengan China yang telah memanfaatkan teknologi untuk pengembangan destinasi wisata,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Syafruddin juga menceritakan pengalamannya saat melakukan kunjungan ke Abu Dhabi dan mengunjungi Masjid King Zayed, sebuah destinasi wisata religi dimana para wisatawan yang datang dari berbagai negara dengan latar belakang berbagai agama, dapat menikmati keindahan seni arsitektur secara bersama. Dia yakin Indonesia juga dapat mengembangkan potensi wisata religi.
“Saya mendapat tawaran dari Nasir Al Zahrani, seorang General Supervisor pendiri Museum Assalamu Alaika Ya Rasulullah, saat bertemu di Mekkah untuk mendirikan Museum Assalamu Alaika Ya Rasulullah di Indonesia yang nantinya dapat menjadi destinasi wisata religi unggulan,” tutur dia.
Menurut Syafruddin, untuk mendukung pengembangan pariwisata di Indonesia maka pelaksanaan reformasi birokrasi secara struktural harus benar-benar dijalankan. Kelembagaan dan perizinan baik di pusat maupun daerah harus diperbaiki.
“Semakin simpel dan sederhana agar mempermudah para pengusaha melakukan pengurusan izin usaha,” tutur pria yang merupakan mantan Wakapolri ini.
Pasalnya, menurut Syafruddin, pelaksanaan reformasi birokrasi merupakan tanggung jawab bersama, sebagai bentuk soliditas bangsa dalam menjalankan pemerintahan yang semakin profesional.
Saat ini, lanjut dia, banyak negara di dunia yang terjebak dalam negara dengan pendapatan menengah karena tidak memiliki program pengembangan SDM untuk mengelola potensi pariwisatanya. Terjebak dalam berbagai persoalan budaya, birokrasi pemerintahan, perizinan usaha dan infrastruktur.
Terkait hal tersebut, Syafruddin meminta para Saudagar Bugis Makassar mengembangkan jiwa entrepreneuship, dengan memadukan kemajuan teknologi dan kearifan lokal untuk memenangkan kompetisi global.
“Tantangan bagi para Saudagar Bugis Makassar adalah mengembangkan jiwa entrepreneurship yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, dengan keunggulan kreatifitas dan inovasi, sehingga mampu mengembangkan ekonomi lokal dan internasional, serta memenangkan kompetisi global,” ujarnya.
Syafruddin yakin para Saudagar Bugis Makassar mampu mengatasi tantangan dan perubahan zaman yang sedang terjadi saat ini, serta memenangkan setiap persaingan yang ada. Sebab para Saudagar Bugis Makassar telah dikenal lama tangguh dalam mengahadapi setiap tantangan dengan memegang teguh dan menjunjung tinggi nilai kearifan lokal.
“Kita harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Sipakatau Sipaka Lebbi (saling menghargai dan saling menghormati) dan berpegang teguh pada prinsip Mali Siparappe-Rebba Sipatokkong Malilu Sipakainge (hanyut saling menolong, jatuh saling menegakkan, khilaf saling mengingatkan,” tandas dia.
Penulis: Risman Septian
Editor: Luki Herdian




























