Indonesia Berduka Akibat Bom di Gereja Katedral Makkasar

Lokasi Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makkasar
Lokasi Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makkasar

Jakarta, PONTAS.ID – Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengatakan bangsa Indonesia kembali berduka akibat peledakan bom di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, yang terjadi Minggu (28/3/2021) dan mengakibatkan satu orang tewas dan 14 orang luka-luka. Dia menegaskan, peledakan dan perusakan rumah-rumah ibadah bukanlah cara beradab untuk menyatakan kepentingan politik apa pun oleh siapa pun.

“Saya menyatakan duka cita sedalam-dalamya. Pelaku peledakan bom ini sampai sekarang memang belum diidentifiakasi oleh polisi. Tapi, jika dia pelaku politik, saya ingatkan bahwa meledakkan bom di rumah-rumah ibadah jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan agama apapun. Jika dia bagian dari terorisme yang selama ini dikaitkan dengan kalangan Islam garis keras, saya juga mengingatkan Islam melarang keras peledakan rumah-rumah ibadah dan pembunuhan umat beragama lainnya’’ tegas Ahmad Basarah, Minggu (28/3/2021).

Media massa memberitakan bahwa sebuah aksi peledakan bom yang diduga bom bunuh diri kembali terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu sekitar pukul 10.20 WITA. Bom bunuh diri ini diduga dilakukan dua orang. Salah satu pelaku tewas di tempat, 14 jamaat di sana mengalami luka-luka.

Peledakan bom bunuh diri di rumah ibadah ini bukan kasus pertama.Sejumlah rentetan kasus serupa terjadi di Indonesia, diawali dengan kasus bom bunuh diri di Bali pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang.

Setahun berikutnya, bom bunuh diri meledak di hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 5 Agustus 2003, menewaskan 14 orang termasuk pelaku. Aksi bom bunuh diri serupa terjadi lagi di depan gedung Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 9 September 2004, menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari 180 lainnya. Bom Bali II terjadi pada pada 1 Oktober 2005, menewaskan 23 korban jiwa.

Terakhir, bom bunuh diri dilakukan di sebuah gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/05/2018), dilakukan oleh satu keluarga, seorang suami istri yang membawa dua anaknya. Ibu dan dua anaknya berupaya masuk GKI di jalan Diponegoro, Surabaya, sebelum kemudian ketiganya meledakkan diri di halaman gereja.

Demikian berbahayanya aksi bom bunuh diri, Ahmad Basarah mendukung penuh gerak cepat Kapolri, Densus 88, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia (BNPT) untuk mengambil langkah extra ordinary dalam menangani kasus terorisme ini.

Ketua DPP PDI Perjuangan ini meminta agar Polri dan BNPT meningkatkan kemampuan deteksi dini dalam mencium gelagat terorisme seraya menindak tegas semua pelaku dan jaringan terorisme sampai ke akar-akarnya.

‘’Jika pihak keamanan berhasil membongkar kasus ini lalu jelas siapa pelaku tindakan biadab itu, masyarakat akan tenang dan tidak akan saling curiga satu sama lain. Pasal 1 Angka 2 UU Terorisme jelas mengingatkan bahwa terorisme sangat berbahaya karena dapat menimbulkan suasana teror yang meluas dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan lainnya,’’ tegas Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu.

Ahmad Basarah mengingatkan, bangsa Indonesia tidak boleh kalah melawan terorisme dalam bentuk apa pun. Benteng ideologi bangsa Indonesia sangat kuat karena sila-sila dalam Pancasila jelas berlawanan dengan ideologi kekerasan yang ditebar oleh para teroris itu.

‘’Terorisme tidak berkaitan dengan agama apa pun karena semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Karena itu, saya berharap setiap orang bisa memisahkan antara ajaran agama dengan perbuatan orang per orang yang mengatasnamakan agama yang mereka anut,’’ jelas Wakil Ketua Lazis PBNU ini.

Sebagai penutup, Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia ini juga mengingatkan agar seluruh lapisan masyarakat bersikap tenang dan tidak terpancing oleh berita yang simpang siur tentang ledakan bom di Gereja Katedral Makassar itu.

“Berita hoaks banyak tersebar di media sosial dan karena itu dia minta semua elemen masyarakat mempercayakan semua penyelidikan kasus ini pada pihak kepolisian,” tandasnya.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Rahmat Mauliady

Previous articlePayung Hukum PPHN Masih Menjadi Perdebatan
Next articleSoal Bom Gereja Katedral, DPR: Polisi Jangan Anggap Remeh Ancaman Teroris

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here