Menpar: Perguruan Tinggi Pariwisata Harus Berstandar Global

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya meminta perguruan tinggi pariwisata yang berada di bawah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk memiliki kurikulum berstandar global dengan membuka kelas internasional.

Dia menjelaskan, bahwa peningkatan standar kurikulum pendidikan ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata.

Saat meresmikan gedung rektorat Politeknik Pariwisata Negeri Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Arief mengatakan bahwa akan ada dua sekolah pariwisata di bawah Kemenpar yang membuka kelas internasional tahun ini.

“Mulai Maret nanti, STP Bandung dan Bali akan membuka kelas internasional. Kelas ini bekerja sama dengan Victoria University di Australia. Saya minta tahun depan Poltekpar Lombok juga bisa membuka kelas internasional,” katanya dalam siaran pers Kemenpar, Jumat (22/2/2019).

Pentingnya transformasi kualitas SDM ini, menurut Arief pernah dibahas bersama Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi). Dimana saat itu Jokowi katanya bertanya terkait bagaimana membangun kualitas SDM. Saat itu Arief mengaku mengusulkan, bahwa Indonesia bisa ‘benchmark’ ke negara-negara yang sukses SDM-nya seperti China, Singapura, dan Malaysia.

“Cara lain untuk meningkatkan kualitas SDM adalah mendatangkan tenaga-tenaga pengajar asing. Saya yakin bila orang terbaik didatangkan ke Indonesia, ini bisa meningkatkan mutu SDM. Cara yang paling efektif saat ini adalah dengan membuka kelas internasional di sekolah pariwisata,” ujar dia.

Selain membuka kelas internasional, Arief menekankan pentingnya Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata di bawah Kemenpar untuk menerapkan 3C (Curriculum, Certification, Center of Excellence), yang merupakan basis standar dunia.

Certification, jelas dia, mewajibkan semua lulusan sekolah di bawah Kemenpar, dosen, serta perguruan tingginya harus terstandarisasi dengan standar ASEAN. Sementara itu, center of excellence, mewajibkan setiap orang memiliki keahlian khusus untuk masuk ke dalam industri pariwisata.

“Maka dari itu, saya minta setiap sekolah pariwisata memiliki spesialisasinya masing-masing misal Bandung untuk kuliner, Bali untuk budaya, dan Lombok terkait wisata halal,” tuturnya.

Sebagai komitmen untuk mendukung upaya peningkatan kualitas SDM pariwisata di Lombok, Kemenpar menganggarkan dana yang cukup besar. Dimana pada tahun 2019, Kemenpar menyediakan anggaran sebesar 227 miliar rupiah untuk Poltekpar Lombok.

“Tahun ini, kami berencana melakukan pembangunan dapur praktik, restoran praktik, dan hotel praktik dengan 60 kamar berstandar bintang 4,” ujar Direktur Utama Politeknik Pariwisata Lombok, Hamsu Hanafi.

Jumlah mahasiswa Poltekpar Lombok selama tiga tahun terakhir sebanyak 809 mahasiswa. Pada 2016, Poltekpar Lombok menerima sebanyak 120 mahasiswa, kemudian pada 2017 jumlah mahasiswa yang diterima sebanyak 380 mahasiswa, dan pada 2018 sebanyak 343 mahasiswa.

“Rencananya pada 2019 ini, kami akan menerima sebanyak 340-an mahasiswa baru, sama seperti target tahun lalu,” tutur Hamsu Hanafi.

Sementara itu Gubernur NTB, Zulkieflimansyah berharap melalui peresmian Poltekpar Lombok, generasi muda di wilayahnya tidak hanya menjadi penonton bagi berkembangnya pariwisata di Nusa Tenggara Barat.

“Poltekpar penting karena merupakan terobosan pemerintah dalam menghadirkan ‘world class tourism polytechnic’. Bila Menpar memprediksi dengan diselenggarakan MotoGP akan mendatangkan 100 ribu wisman dan mulai banyak didirikan hotel-hotel baru, maka saya mau anak-anak NTB tidak hanya jadi penonton tapi juga aktor,” kata Zulkieflimansyah.

Editor: Risman Septian

Previous articleTKN Bantah Buat Video Sosialisasi Berbahasa Mandarin
Next articleDiplomasi Sawit di India, Mendag Tekankan Prinsip Kemitraan dan Kolaborasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here