Jakarta, PONTAS.ID – Data impor jagung yang dipaparkan capres 01 Joko Widodo (Jokowi) dalam debat kedua menuai kritik. Jokowi menyebut impor jagung pada tahun 2014 3,5 juta ton yang mencapai bisa ditekan menjadi 180.000 ton pada 2018, namun data Badan Pusat Statistik (BPS) justru berbeda.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasinya yang berjudul Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Impor November 2018, Indonesia sudah mengimpor jagung sebanyak 587,2 ribu ton sepanjang Januari-November 2018.
Bahkan angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang juga mengimpor sebanyak 517,4 ribu ton jagung.
Namun demikian memang rata-rata impor jagung di masa kepemimpinan presiden Jokowi selama 4 tahun (2015-2018) sudah berkurang lebih dari separuh dibanding periode sebelumnya (2010-2013).
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pertanian dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika mengatakan, Klaim Peresiden itu mungkin hanya untuk pakan, belum termasuk kebutuhan industri makanan dan minuman, dll.
“Kita berpikir positif, perbedaan data yang disampaikan Jokowi dan data BPS yang berbeda signifikan hanya untuk pakan. Untuk kebutuhan industri Makanan dan minuman misalnya bisa mencapai 600 ribu ton. Kalau misalkan sekarang BPS mengeluarkan data 560 ton dan sudah termasuk 130 ton untuk pakan, berarti datanya sudah valid” jelasnya di Jakarta, Selasa (19/2/2019.
Menurut Yeka, Impor jagung memang menurun untuk pakan.” Tetapi perlu diketahui bahwa impor gandum untuk pakan juga naik, ini tidak banyak dilihat orang” ujar Yeka.
Lanjut yeka, total pemerintah impor jagung dari tahun 2016 sampai sekarang mencapai 4,77 juta ton. ” Rata-rata per-tahun 1,2 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 13-15 juta ton per tahun, ini masih wajar,” ujar yeka.
Akan tetapi, Lanjut Yeka, dalam kurun waktu yang sama, Indonesia mengimpor lebih dari 8 jt ton gandum substitusi jagung, atau rata rata 2 juta ton gandum per tahun. Jika 2 juta ton gandum itu diganti dengan jagung, maka total impor jagung setara 3,2 juta ton.
“Jadi dengan demikian kondisi saat ini tidak ada bedanya dengan kondisi yang terjadi di tahun 2014-2015. Saat itu impor jagung sekitar 3 jutaan juga. Cuma skrg bedanya jagungnya di kecilkan agar keliatan suksesnya program swasembada jagung. Yang hebat jika substitusi jagung, dalam hal ini gandum tidak diimpor, berarti benar bahwa kita swasembada jagung dalam arti yang sebenarnya,” tegas Yeka.
Program pemerintah yang menargetkan swasembada jagung tahun 2015 menurutnya belum tercapai, menurut Yeka ada 3 hal yang menjadi tantangan pemerintah untuk bisa mewujudkan swasembada jagung.
Pertama adalah luas lahan yang cenderung berkurang, meski produksi masih bisa stagnan.
Kedua, pemerintah diminta fokus pada industri benih unggul untuk menggenjot produksi.
Terakhir adalah masih kurangnya usaha petani untuk melawan serangan hama saat masa jelang panen.
Editor: Idul HM




























