Jaga Stabilitas Ekonomi Indonesia 2019, Ini Strategi Kemendag

Jakarta, PONTAS.ID – Guna menjaga stabilisasi ekonomi Indonesia di masa depan, terutama di tahun 2019 ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) bakal melakukan beberapa hal yang perlu diantisipasi, baik untuk lingkup global maupun domestik.

Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa pada lingkup global, hal-hal yang perlu diantisipasi yaitu perekonomian global yang tumbuh melambat 3,7 persen, kemudian volume perdagangan dunia yang tumbuh 4 persen, serta harga beberapa komoditas nonmigas seperti minyak sawit, karet, kopi, kakao, teh, udang, kayu gergajian, dan barang tambang (aluminium, tembaga, nikel, dan timah) yang diprediksi menguat 0,3-3,9 persen.

Sementara itu, lanjut Enggar, tantangan domestik berupa daya saing nasional yang masih perlu ditingkatkan, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan risiko politik dari terselenggaranya pemilihan umum (pemilu) serentak 2019.

“Pemerintah optimis dan realistis menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut, target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas 2019 ditetapkan moderat 7,5 persen,” kata Enggar dalam siaran pers Kemendag, Jumat (11/1/2019).

Kemudian terkait strategi khusus untuk meningkatkan perkembangan ekspor di tahun 2019, Enggar mengatakan bahwa Kemendag akan memperbanyak perjanjian dagang dengan beberapa negara tetangga untuk memperluas pasar ekspor.

“Akses pasar ini kita lakukan baik yang dilakukan secara formal melalui bentuk perjanjian. Kemudian terkait perjanjian itu, beberapa perjanjian Asean Plus, sejak 2015 udah dikeluarkan perpres dan udah masuk entry. Itu akan berikan dampak di 2019,” ujarnya.

Dalam perluasan jaringan dagang ini, kata Enggar, kementeriannya tidak ingin hanya melakukan pertemuan formal saja, tetapi juga menerapkan skema bisnis matching dan perjanjian yang real agar Indonesia segara bisa memperluas jaringan dagang.

“Kita membuat bisnis matching dan hasilkan cukup banyak transaksi langsung dan juga follow up-nya. Bukan hanya manufaktur yang berorientasi ekspor. Tapi investasi atas manufaktur yang berorientasi ekspor benar-benar dapat perhatian khusus. Produk ada, dari market ada kita ajak pengusaha ketemu untuk lakukan itu,” tutur dia.

Di tahun 2019 ini, Kemendag berkomitmen menyelesaikan 12 perjanjian perdagangan internasional di tahun 2019, yaitu preferential trade agreement (PTA) antara Indonesia dengan Mozambik, Tunisia, Maroko, dan Iran.

Lalu ada comprehensive economic partnership agreement (CEPA) antara Indonesia dengan Turki, Korea, dan Uni Eropa; kemudian ASEAN Trade in Service Agreement (ATISA); General Review IJEPA.

“Serta First Protocol to Amend of ASEAN-Japan CEPA (investment and services); Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP); serta mempercepat penandatanganan Indonesia-Australia CEPA,” tukasnya.

Editor: Risman Septian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here