Kemenpar Libatkan Diaspora untuk Diplomasi Kuliner

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya.

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melakukan diplomasi antar-negara melalui promosi kulinerk, dengan melibatkan para diaspora atau warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, untuk mempromosikan kuliner dengan cara membuka restoran di negaranya.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya mengungkapkan bahwa hal ini bertujuan untuk memperkenalkan kuliner Indonesia serta menarik minat kunjungan wisman dari berbagai negara.

“Kita tidak punya banyak restoran di luar negeri. Untuk menyikapi hal tersebut, kita melakukan co-branding dengan restoran di luar negeri. Ini merupakan diplomasi kuliner yang kami lakukan,” kata Arief dalam siaran pers Kemenpar, Jumat (23/11/2018).

Dia menambahkan, bahwa pemerintah memang sebaiknya terlibat dalam hal ini, bahkan lebih baik lagi jika memberikan insentif kepada diaspora yang membuka restoran menu Indonesia di luar negeri. Sebab, hal itu dinilai bisa menjadi stimulus yang baik.

Kegiatan ini, lanjut Arief, juga bertujuan utuk memberikan apresiasi dan motivasi kepada restoran Indonesia di mancanegara yang telah membantu pemerintah dalam memopulerkan kuliner Indonesia di kancah dunia.

“Kemenpar mendukung mitra co-branding restoran diaspora Indonesia di mancanegara agar tumbuh dan berkembang di tengah persaingan ketat dengan negara tetangga,” ujarnya.

Lebih lanjut Arief mencontohkan kesuksesan Thailand yang memiliki nation’s food Tom Yam, yang dipopulerkan oleh lebih dari 16 ribu restoran diaspora yang tersebar di seluruh dunia.

“Tumbuh pesatnya restoran Thailand ini tidak lepas dari peran pemerintah yang memberikan soft loan sekitar 1,5 miliar rupiah untuk setiap restoran. Untuk penerapan di Indonesia, kita mendukung restoran tersebut melalui co-branding,” imbuh dia.

Selain melakukan co-branding 100 restoran dispora Indonesia, hal lain yang menjadi perhatian Kemenpar adalah penetapan nation’s food yaitu rendang, nasi goreng, sate, soto dan gado-gado, serta 3 destinasi kuliner Indonesia yaitu Bali, Bandung dan Joglosemar (Jogya, Solo dan Semarang).

Bentuk kerjasama yang terjadi adalah, para diaspora bisa menggunakan branding Wonderful Indonesia untuk meningkatkan nilai merek restoran. Sedangkan, para mitra juga bisa mempromosikan pariwisata melalui 5 nation’s food.

Apresiasi yang sama juga diberikan oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Dimana dia mengaku sangat mengapresiasi para diaspora yang memperkenalkan makanan di luar negeri.

“Saya paham, kita terus berusaha mempertahankan daya tarik makanan Indonesia, disana merupakan negara dimana makanan Indonesia paling banyak ada. Disinilah para diaspora berperan,” ucap Retno.

Dia pun menyarankan agar nama makanan Indonesia yang dipromosikan diluar negeri, tetap dipertahankan nama aslinya, seperti nasi goreng, gado-gado, dan lain-lain. Retno mengakui, untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada dunia memang memerlukan usaha lebih, namun hal itu dapat meningkatkan nilai jual pariwisata Indonesia bagi wisman.

“Dalam promosi, kita tetap haru memperhatikan keaslian makanan, tampilannya, serta bagaimana makanan tersebut dijual. Biasanya sebuah makanan akan naik nilai jualnya kalau ada cerita dibaliknya. Kembangkanlah Indonesia yang majemuk dan damai. Mari dukung diplomasi kuliner Indonesia,” pungkas Retno.

Seperti diketahui kuliner merupakan media diplomasi sosial ekonomi paling halus, cepat, impactful, dan efektif untuk mempopulerkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang menarik di dunia. Kuliner juga memberikan kontribusi terbesar dalam kegiatan pariwisata sekitar 30 hingga 40 persen pengeluaran wisatawan untuk kebutuhan makan dan minum.\

Editor: Risman Septian

Previous articleMenteri LHK Akui Sering Bergesekan Dengan ATR/BPN Masalah Hutan
Next articleKemendag Teken Kerja Sama Promosi Ekspor dengan Aljazair