Jakarta, PONTAS.ID – Komisi X DPR RI mendorong Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018 yang bakal diselenggarakan Desember mendatang, tidak hanya menjadi kegiatan rutinan agar anggaran terserap.
Demikian disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Anang Hermansyah. Lebih dari itu, dia menegaskan bahwa penyelenggaraan KKI 2018 mesti menghasilkan upaya konkrit pemerintah untuk memajukan kebudayaan.
“Jadi intinya jangan hanya sekedar formalitas atau agar terkesan untuk menyerap anggaran saja, KKI 2018 harus bisa menghasilkan strategi kebudayaan yang komprehensif,” kata Anang dalam keterangan persnya yang diterima oleh wartawan di Jakarta, Jumat (9/11/2018).
Politikus asal Partai Amanat Nasional (PAN) ini melanjutkan, seni merupakan salah satu bagian dalam kebudayaan yang mesti dibangkitkan kembali. Terlebih seni musik yang dalam satu dekade terakhir dinilai cenderung lesu.
Untuk itu, dia berharap KKI 2018 mampu menjadi tonggak penting dalam kemajuan kebudayaan. Terlebih lagi menurut Anang, keragaman budaya yang ada di Indonesia bisa dijadikan sebagai modal untuk menghadapi persaingan global.
“Perkembangan digital semakin massif, oleh karena itu perlu kita respon dari segi kebudayaan,” jelas dia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid juga berharap kongres ini mampu menghasilkan subtansi yang lebih baik dalam menghasilkan langkah dan strategi yang menjadi acuan pemerintah dalam mengatasi permasalahan yang ada.
Hilmar juga memastikan bahwa dalam acara KKI 2018 yang merupakan kegiatan siklus lima tahunan tersebut, akan memberi dampak pada pemajuan kebudayaan di Indonesia. Sebab KKI tahun ini diklaim berbeda dengan yang sebelumnya.
“Tahun ini ini ada pembahasan masalah dan pemberian rekomendasi. Rekomendasi ini akan jadi landasan dalam strategi kebudayaan. Saya kira ini sangat efektif,” tegas Hilmar.
Nantinya, lanjut Hilmar, strategi kebudayaan ini akan diserahkan ke Presiden. Untuk membuat Perpres berdasarkan strategi pemajuan kebudayaan. “Dan ini sama sekali belum pernah dilakukan di negeri ini,” ungkap dia.
Editor: Luki Herdian




























