Tekan Pengangguran, Jokowi Genjot Pendidikan Vokasi

Jakarta, PONTAS.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) meskipun angka pengangguran Indonesia per-Agustus 2018 turun menjadi 5,34 persen dibandingkan posisi Agustus 2017 yang sebesar 5,50 persen.

“Turunnya angka pengangguran di Indonesia merupakan hal yang wajib untuk disyukuri. Namun harus ditekan agar lebih rendah antara lain melalui pendidikan vokasi,” kata Presiden Jokowi di Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Turun nya angka pengangguran ini lanjut Prsiden masih harus ditekan dengan kerja keras, lantaran masih di atas lima persen. Untuk itu, Preside menekankan pentingnya perbaikan kualitas pelatihan vokasi atau kejuruan (vocational training) serta sekolah vokasi.

“Saya sampaikan pelatihan vokasi dan sekolah vokasi harus menjadi fokus kita sehingga SDM kita siap masuk dunia kerja,” katanya.

Presiden menegaskan, sejumlah kerjasama pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi dengan berbagai negara seperti Jerman yang tengah digencarkan Pemerintah akan terus dikembangkan.

“Dan kerja sama kita dengan Pemerintah Jerman terus berlanjut. Kemarin misalnya dari Siemen mau bantu kita di bidang vocational training ini,” katanya.

SDM Otomotif
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto juga mengingatkan pentingnya SDM Indonesia memiliki kompetensi digital untuk menyokong industri otomotif yang berdaya saing global.

“Industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan yang berkontribusi signfikan pada pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Airlangga pekan lalu.

Tercatat, sumbangsih industri otomotif terhadap PDB nasional mencapai 10,16 persen pada tahun 2017 serta menyerap tenaga kerja langsung dan tidak langsung sebanyak 1,5 juta orang.

“Dengan menargetkan produksi hingga 1,5 juta unit mobil pada tahun 2020, tentu perlu peran SDM yang terampil terutama di dalam menghadapi era digital,” kata dia.

Airlangga juga mengungkapkan, pemerintah meningkatkan target 10 persen kepada industri sepeda motor dari total produksi yang mencapai 6 juta unit per tahun.

Pemerintah kata Airlangga, bersama pemangku kepentingan terkait telah menjalankan program strategis dalam penciptaan SDM berkualitas sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.

“Kami telah menyusun proyeksi pengembangan, jenis kompetensi (job title), dan lokasi industri yang terkait dengan lulusan SMK,” paparnya.

Kurikulum SMK
Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka menurut daerah pada Agustus 2018 sebesar 5,34 persen atau turun dibandingkan posisi Agustus 2017 yang sebesar 5,50 persen.

“Tingkat pengangguran turun 0,16 persen, tetapi masih ada perbedaan tinggi antara kota dan desa,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/11/2018).

Tingkat pengangguran terbuka adalah jumlah tenaga kerja yang tersedia namun tidak terserap oleh lapangan kerja, “Penyebab utamanya adalah adanya pengurangan tenaga kerja di sektor pertanian. Ini wajar karena kalau terjadi transformasi ekonomi harusnya jumlah tenaga kerja di pertanian semakin lama semakin berkurang,” kata Suhariyanto.

BPS juga mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi menurut pendidikan berasal dari jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebesar 11,24 persen.

Sedangkan tingkat pengangguran terendah sebesar 2,43 persen terdapat pada penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah.

“Untuk SMK masih tertinggi, pemerintah sudah berupaya melakukan beberapa kebijakan memperbaiki kurikulum SMK supaya lebih match dengan kebutuhan tenaga kerja yang ada. Ke depan diharapkan lebih baik,” ujar Suhariyanto.

Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here