BPOM RI Ungkap Kasus Penjualan Obat Ilegal Online

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito (nomor 2 dari kanan) saat pengungkapan kasus penjualan obat ilegal secara online.

Jakarta, PONTAS.ID – Setelah empat bulan melakukan penelusuran secara mendalam, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah melakukan penggerebekan terhadap dua gudang dan satu rumah di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat (Jakbar), yang diduga menjadi tempat penyimpanan dan distribusi obat ilegal melalui situs online.

Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito mengungkapkan bahwa satu orang laki-laki berinisial N telah ditetapkan sebagai tersangka, pasca penggerebekan yang dilakukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BPOM RI, yang bekerjasama dengan Polri dan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo).

“Penindakan dilakukan Rabu 31 Oktober lalu. Sekitar pukul lima sore. Dari tiga tempat itu, ditemukan 291 item atau 552.177 pieces obat ilegal,” kata Penny dalam konferensi pers di Kantor BPOM RI, Jakarta Timur, Senin (5/11/2018).

Dia pun mengungkapkan, bahwa obat-obat ilegal yang ditemukan disana antara lain yakni obat disfungsi ereksi seperti Cialis, Levitra, dan Max Man. Selain itu, ditemukan juga suplemen pelangsing, obat tradisional penambah stamina pria dan krim kosmetika ilegal serta alat perangsang seks, dengan nilai keekonomian diperkirakan mencapai 17,4 miliar rupiah.

Modus yang dilakukan adalah menjual atau mendistribusikan obat ilegal secara online dengan menggunakan jasa pengiriman. Diperkirakan nilai transaksi dari penjualan ilegal per hari antara 3 juta hingga 1,5 miliar rupiah. Perkiraan itu didapat dari 97 buku tabungan dan kuitansi bukti transaksi yang ditemukan penyidik.

“Tersangka mengaku telah beroperasi selama satu tahun. Namun PPNS BPOM RI menemukan bukti dokumen bahwa kegiatan pelanggaran telah dilakukan selama tiga sampai empat tahun,” ujarnya.

Tersangka N diduga merupakan pelanggaran tindak pidana kejahatan obat dan makanan dengan melakukan peredaran obat palsu dan tanpa izin edar dalam jumlah besar ke seluruh wilayah Indonesia.

Dalam hal ini, tersangka melanggar UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 197, serta UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 62 ayat (1), dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun penjara dan/atau denda paling banyak 1,5 miliar rupiah.

Penny menegaskan bahwa pihaknya akan terus memastikan setiap pelanggaran kejahatan obat dan makanan di Indonesia, akan ditindak sesuai dengan aturan yang berlaku.

Saat ini tersangka ditahan di Rumah Tahanan Bareskrim Polda Metro Jaya, karena ada kekhawatiran dia akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan/atau mengulangi tindak pidana.

PPNS BPOM RI akan terus melakukan pengembangan kasus pengungkapan jaringan pengedar obat kuat ilegal lainnya, yang tidak menutup kemungkinan ditemukan tersangka baru.

“Ini merupakan aksi nyata BPOM RI dalam menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4.0, dimana transaksi perdagangan produk obat dan makanan telah dilakukan online melalui internet,” tutur Penny.

Lebih lanjut dia menyatakan, bahwa obat disfungsi ereksi termasuk kelompok obat ilegal terbesar yang menjadi temuan BPOM RI dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Obat disfungsi ereksi sering disalahgunakan sebagai obat kuat.

BPOM RI, tegas Penny, tidak pernah memberikan persetujuan izin edar dengan indikasi sebagai obat kuat. Penggunaan obat disfungsi ereksi tanpa pengawasan tenaga kesehatan memiliki risiko terhadap kesehatan, antara lain gangguan jantung, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal dan gangguan perdarahan.

Editor: Risman Septian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here