Penuhi Selera Pasar, Kunci Tingkatkan Ekspor Furnitur

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita berpendapat bahwa kunci untuk meningkatkan ekspor produk furnitur dalam negeri, adalah dengan mengikuti dan memenuhi selera pasar dari masyarakat liar negeri.

“Untuk merebut dan memenangkan pasar global produk furnitur, para pengusaha harus mengikuti dan memenuhi selera pasar. Apabila para pengusaha mampu menyesuaikan selera pasar, maka produk-produknya akan banyak diminati para pembeli,” kata Enggar dalam siaran pers Kemendag, Senin (29/10/2018).

Dia pun menambahkan, bahwa ketersediaan bahan baku untuk memproduksi furnitur di Indonesia, merupakan kelebihan yang tidak dimiliki oleh negara lain. “Dan kelebihan yang menjadi kekuatan Indonesia itu harus didukung dengan nilai tambah produk,” ujarnya.

Enggar juga mengajak para pelaku industri furnitur yang tergabung dalam Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajianan Indonesia (ASMINDO), untuk saling bertukar pikiran guna memajukan ekspor, khususnya ke pasar-pasar nontradisional seperti Afrika, Euroasia, Timur Tengah, Asia Selatan termasuk ke tetangga dekat ASEAN.

Dan pihak pemerintah, katanya akan memfasilitasi para pelaku usaha dengan membuka pasar baru melalui perjanjian perdagangan dengan negara-negara lain.

“Pemerintah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi para pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor produk-produk unggulan Indonesia. Sinergi pemerintah dan para pelaku usaha penting untuk dilakukan, agar target ekspor bisa tercapai,” jelasnya.

Lebih lanjut, Enggar mengaku yakin bahwa pertumbuhan ekspor sektor furnitur akan terus meningkat. Selain bahan baku yang melimpah, Indonesia menurutnya juga memiliki kelebihan dalam aspek ‘rasa’ dan hasil karya perajin Indonesia yang telah diakui dunia.

Walaupun demikian, Enggar juga menyampaikan bahwa produk furnitur yang diproduksi secara massal juga dapat menunjang aspek presisi dan efisiensi sehingga memiliki harga yang bersaing di pasaran.

Data pada 2017 mencatat nilai ekspor furnitur kayu, rotan, dan bambu sebesar 1,36 miliar dolar AS. Adapun pada 2018 hingga Agustus, ekspor furnitur tercatat sebesar 1,09 miliar dolar AS atau meningkat 2,75 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2017.

Adapun negara-negara yang menjadi tujuan utama ekspor furnitur Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, Belanda, Inggris, dan Jerman. Ekspor furnitur kita ke lima negara tersebut berkontribusi lebih dari 64 persen ekspor furnitur di tahun 2017, sehingga negara-negara tersebut tergolong dalam kategori pasar tradisional.

Pada penyelenggaraan TEI kali ini, furnitur tetap menjadi salah satu produk yang banyak dicari oleh buyers. Berdasarkan data registrasi daring, sebanyak 915 buyers menyatakan kunjungannya ke TEI untuk mencari produk furnitur. Jumlah tersebut belum termasuk dengan buyers yang melakukan registrasi di TEI 2018.

Per 25 Oktober 2018, furnitur merupakan produk dengan transaksi terbanyak urutan ke-11 dengan nilai 12,26 juta dolar AS. Di samping itu, sejumlah perwakilan perdagangan juga menginisiasi berbagai kerja sama dagang antara pelaku usaha di negara akreditasinya dengan pengusaha furnitur Indonesia. Terdapat tujuh penandatanganan MoU yang diagendakan pada TEI 2018 untuk furnitur, di antaranya berasal dari Italia, Australia, Spanyol, Belgia, dan Singapura.

Pemerintah melalui kolaborasi Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga akan berupaya mengimplementasikan kebijakan yang lebih efisien dan efektif dalam hal perizinan, namun juga tetap mematuhi kebijakan yang memerhatikan aspek keberlangsungan lingkungan.

Manfaatkan Perang Dagang

Selain itu, Enggar mengatakan bahwa perang dagang antara AS dengan China harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor dan memasuki pasar baru melalui berbagai perjanjian perdagangan.

Saat ini China masih memimpin kancah ekspor furnitur dunia dengan pangsa pasar lebih dari 30 persen dan AS lebih dari 40 persen, sehingga sangat mungkin apabila furnitur Indonesia turut meramaikan pangsa pasar global.

“Dengan adanya perang dagang tidak perlu membuat kita khawatir meskipun kita masih terbilang kecil dan mewaspadai pengalihan arus ekspor dari China. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik dengan tetap menjunjung prinsip keterbukaan dan daya saing. Kita harus hadir dengan produk yang bernilai tambah tinggi dari bahan terbaik,” pungkas Enggar.

Editor: Risman Septian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here