Poros Ketiga Pengusung Jusuf Kalla Diyakini Tak Akan Terbentuk

Wakil Presiden, Jusuf Kalla.

Jakarta, PONTAS.ID – Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy meyakini poros ketiga untuk mengusung Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai calon presiden pada Pilpres 2019 tak akan terbentuk.

Hal itu disampaikan Romi, sapaan Romahurmuziy, menanggapi wacana pencapresan Kalla dengan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Sampai saat ini Pak JK (Jusuf Kalla), yang saya tahu, berkali-kali menegaskan tidak mau maju lagi sebagai capres atau cawapres,” kata Romi, Jumat (29/6/2018).

“Saya kok tidak meyakini poros ketiga akan terbentuk untuk mendukung JK sebagai capres. Meski secara politis dan yuridis memungkinkan,” ujarnya.

Selain itu, Romi menilai Kalla merupakan seorang negarawan sehingga tak terus berambisi mencapai jabatan presiden.

Ia pun menilai Kalla merupakan sosok yang realistis, sehingga saat melihat survei ia memprediksi Kalla tak berniat maju sebagai capres.

Sebab, kata Romi, saat ini elektabilitas Kalla sebagai capres masih kalah dengan Presiden Joko Widodo, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, dan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

“Posisinya memang sangat kuat sebagai cawapres dalam survei. Tapi sebagai capres, beliau agak sulit mengejar figur Jokowi atau Prabowo, atau Gatot. Saya kira beliau realistis. Tapi kami menghormati kalau beliau memutuskan,” ujar dia.

Tak Maju di Pilpres

Terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan, dirinya takkan maju kembali pada Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Pernyataan Kalla tersebut ia ungkapkan bukan untuk kali pertama, namun untuk kesekian kalinya.

“Saya sudah 35 tahun dalam bisnis dan 20 tahun di pemerintahan. Jadi 55 tahun bagi saya itu sudah cukup,” ujar JK.

Menurutnya, ia ingin menikmati waktunya bersama dengan keluarga dan cucu terkasih.

“Jadi sudah waktunya untuk bersama keluarga, melihat cucu saya,” kata dia.

Apalagi, kata JK, konstitusi di Indonesia juga tak berbeda seperti di Amerika Serikat. Di Indonesia seseorang hanya bisa dua kali menduduki jabatan presiden atau wakil presiden.

“Kita sama seperti AS, hanya dua kali. Anda bisa jadi presiden atau wakil presiden,” katanya.

Sebelumnya (SBY) bertemu dengan Kalla di kediaman SBY di Kuningan, Jakarta, Senin (25/6/2018).

Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan berharap, pertemuan bisa melahirkan koalisi antara Partai Demokrat dan Partai Golkar pada Pilpres 2019. Menurut Hinca, koalisi Golkar-Demokrat bisa menjadi alternatif poros ketiga, di luar koalisi PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.

“Jika PDI-P saat ini sudah ada koalisinya. Begitu juga Gerindra, maka diharapkan pertemuan ini membuka peluang Koalisi alternatif Golkar-Demokrat,” kata Hinca dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/6/2018).

Hinca mengatakan, baik SBY maupun JK dikenal sebagai sosok nasional yang lekat dengan kedua partai tersebut. SBY adalah Ketua Umum Partai Demokrat, sementara JK pernah menjadi Ketua Umum Partai Golkar.

“Pertemuan keduanya diharapkan makin membuat Golkar dan Demokrat makin mesra,” kata Hinca.

Previous articleSebagian Wilayah DKI Bakal Diguyur Hujan Siang Hari
Next articleDivonis Mati, Aman Abdurrahman Tak Ajukan Banding