Jakarta, PONTAS.ID – Sebanyak 80% kebutuhan pokok masyarakat Kalimantan Selatan (Kalsel) dipasok dari luar daerah terutama Pulau Jawa. Untuk mengurangi ketergantungan pasokan luar Kalsel terus kembangkan aneka komoditas pangan termasuk bawang merah dan cabe.
“Pengembangan komoditas pangan ini jadi prioritas pemerintah daerah untuk mengurangi ketergantungan Kalsel dari daerah lain,” tutur Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, Faturahman, saat menghadiri kegiatan panen bawang merah seluas dua hektare di Desa Danau Karya, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala, Rabu (20/6/2018).
Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang selama ini sangat bergantung pasokan dari luar daerah khususnya Nusa Tenggara Barat. Saat cuaca buruk di perairan maka harga kebutuhan pokok di Kalsel melonjak, karena pasokan terganggu.
Dikatakan Faturahman, jika diasumsikan kebutuhan bawang per kapita 4 kg per tahun, tingkat kebutuhan Kalsel mencapai 16.000 ton per tahun.
Sejauh ini produksi lokal Kalsel baru memenuhi 10% kebutuhan bawang merah. Demikian juga dengan cabe yang dibutuhkan masyarakat mencapai 12.000 ton per tahun. Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah dan cabe ini juga dipengaruhi tradisi merayakan maulid di Kalsel.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel, produksi tanaman pangan terus meningkat termasuk bawang merah dan cabe. Produksi bawang merah naik dari 867 ton pada 2015 menjadi 3.179 ton pada 2017.
Termasuk produksi cabe yang juga mengalami peningkatan. Adapun daerah pengembangan bawang merah dan cabe ini meliputi Barito Kuala, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah dan Tanah Laut.
Menurutnya, keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan semua pihak terutama pembinaan dan besarnya dukungan program, kegiatan dan anggaran APBN dan APBD. Kalsel diproyeksikan menjadi daerah sentra pangan nasional.
Editor: Idul HM




























