Jakarta, PONTAS,ID – Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Mendag) Tjahya Widayanti mengatakan akan membahas kembali rencana penurunan harga eceran tertinggi (HET) beras level medium bersama kementerian dan lembaga terkait.
Ia mengungkapkan pihaknya memiliki tanggung jawab untuk menjaga harga di tingkat konsumen. Maka dari itu, perlu ada patokan harga untuk menjaga harga tetap berada di jalur yang tepat.
“Kami ingin konsumen tidak dibebani jadi memang harus ada patokan harga. HET yang sebelumnya pun kami lihat sudah cukup efektif,” ujar Tjahya di Jakarta, Rabu (6/6/2018).
Kementerian Perdagangan, dalam tiga bulan terakhir, terus melakukan pemantauan harga beras secara langsung di pasar-pasar yang rentan mengalami gejolak di 34 provinsi di seluruh Indonesia.
“Kenyataan di lapangan, di pasar-pasar tradisional suplai aman dan harga terkendali. Tidak ada alasan bagi pedagang menaikkan harga,” ucapnya.
Sedianya beras yang dijual di bawah HET saat ini sudah dilakukan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog). Perseroan menjual beras kualitas medium dengan harga Rp8.950 per kilogram (kg) di bawah HET yang ditetapkan pemerintah Rp9.450 per kg.
“Beras medium sudah kami jual Rp8.950 per kg. Harga itu diterapkan berdasarkan penghitungan kemampuan masyarakat. Bisa saja nanti lebih rendah lagi. Jadi harga itu ditetapkan bukan karena HET. HET memang diperlukan sebagai panduan, patokan, tetapi kami juga ikuti kondisi pasar,” jelas Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan berencana menurunkan HET beras kualitas medium dari Rp9.450 per kg menjadi Rp8.950 per kg.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan rencana itu didasari pada pertimbangan bahwa rata-rata harga beras medium pada sebagian besar pasar tradisional di seluruh Indonesia telah turun dan berada di bawah Rp9.450 per kg.
Editor: Idul HM




























