Ekspor Batik Nasional Sasar 64 Juta Dollar Tahun Ini

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Gati Wibawaningsih

Jakarta, PONTAS.ID – Nilai ekspor batik nasional pada tahun 2017 berada di angka US$58,4 juta (Rp800 miliar) atau jeblok sebesar 61 persen ketimbang tahun 2016 yang sebesar US$149,9 juta (Rp2,05 triliun).

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengatakan penurunan ekspor pada tahun lalu itu karena melemahnya kondisi ekonomi global.

“Tahun lalu ekspor turun karena permintaan (global) memang turun. Daya beli 2017 awal turun, baru mau naik ekonomi di akhir,” kata Gati selaku Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam rilis yang diterima PONTAS.id, Jakarta, Jumat, (18/5/18).

Meski demikian, Gati berharap pada tahun ini ekspor batik mulai rebound dengan target sebesar US$64,4 juta atau naik 10% dari tahun 2017. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan lebih menggencarkan promosi yang sudah dimulai sejak awal tahun.

“(Kita yakin karena) batik Indonesia tidak ada saingannya karena khas. (Batik) Tiongkok dan Malaysia tidak bisa buat yang seperti kita,” ucapnya.

Menurut Gati, batik dari Tiongkok kebanyakan bersifat cetak dan motifnya kurang berkembang, begitu pula dengan batik Malaysia.
“Kreativitas batik memang dari Indonesia, khususnya dari Jawa. Batik sebenarnya cuma kita, tidak ada saingan. Malaysia coba-coba bikin batik, tapi mereka melukis, bukan membatik, beda sekali,” tegasnya.

Ia menyebut Kemenperin akan gencar dalam melakukan promosi di pasar luar negeri karena saat ini pangsa pasar ekspor batik baru 10%. Sedangkan. 90% merupakan pasar dalam negeri. Ia yakin pangsa pasar ekspor batik Indonesia di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa tidak akan hilang.

Gati menyebut industri batik Indonesia didominasi oleh sektor IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh wilayah Indonesia. “Dari jumlah tersebut, mampu menyerap tenaga kerja sebesar 15 ribu orang,” tukasnya.

Untuk mengembangkan potensi industri padat karya berorientasi ekspor. Kemenperin terus meningkatan kompetensi sumber daya manusia dan pengembangan kualitas produk. Salah satunya dengan menampilkan batik menggunakan zat warna alam sebagai upaya menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi.

“Pengembangan zat warna alam juga turut mengurangi importasi zat warna sintetik. Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis, preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat. Sehingga batik warna alam ini hadir menjawab tantangan tersebut dan diyakini dapat meningkatkan peluang pasar,” pungkasnya.

Previous articleAXA Mandiri Rilis Produk Prestise untuk Nasabah Mandiri
Next articleIni Penyebab Jasa Marga Sempat Tutup Sementara GT Sidoarjo-1