
Jakarta, PONTAS.ID – Roadshow Kementerian Pariwisata untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang Kepariwisataan terus berlanjut. Kali ini, 52 Asesi atau peserta yang berasal dari bebrapa kota besar di Indonesia mengikuti mengikuti uji kompetensi, atau Recognition Prior Learning (RPL) yang digelar pada 12 hingga 13 Mei 2018, bertempat di Swiss BelInn, Balikpapan.
Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizky Handayani Mustofa mengatakan, uji kompetensi ini adalah program terobosan Kemenpar. Sekaligus mendukung program vokasi yang digagas Presiden Jokowi, di bidang Pariwisata.
Setelah mendapatkan sertifikat ahli perhotelan di level 8, para GM diharapkan dapat tampil sebagai dosen tamu. Atau, menjadi tim teaching di Perguruan Tinggi Pariwisata. Sehingga, dapat membantu memberikan peningkatan keterampilan baik kepada dosen maupun mahasiswanya.
“Sesuai instruksi Menpar Arief Yahya, kurikulum berstandar global. Di samping itu, juga telah disiapkan program WITE (Wonderful Indonesia Tourism Entrepreneurship) kerjasama dengan SBM ITB, untuk mencetak 10 persen lulusan jadi pengusaha yang melibatkan semua Perguruan Tinggi di lingkungan Kemenpar,” kata Rizky selaku Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dalam rilis yang diterima PONTAS.id, Jakarta, Selasa, (16/5/18).
Wisnubawa Tarunajaya juga menambahkan, uji kompetensi ini adalah program terobosan Kemenpar, Menteri Pariwisata Arief Yahya sendiri juga mendorong untuk mencetak SDM yang berstandrt global. Dia menyebut pariwisata mempunyai multiplier effect yang memberikan pengaruh yang kuat. Terlebih pada lingkungan sekitarnya dengan menjaga kearifan lokal agar memiliki nilai bagi kesejahteraan masyarakat, terlebih di era digital sekarang.
“Menpar Arief selalu mengingatkan bahwa kalau ingin menjadi global player, maka harus menggunakan global standard. SDM kita harus berstandar global. Sekolah pariwisata kita harus berstandar global. Kurikulum kita harus berstandar global, Begitupun tenaga pengajarnya” ujarnya.
Sementara itu, Wisnubawa Taruna Jaya mengambahkan, sejak awal 2017, Kemenpar sudah mendeklarasikan seluruh Perguruan Tinggi Negeri dan swasta, khususnya bidang pariwisata, ditetapkan sebagai perguruan tinggi vokasi. Perguruan tinggi itu berjumlah 132 buah.
“Khusus Perguruan Tinggi di bawah Kemenpar, mulai tahun ini menerapkan kurikulum 70 persen praktek dan 30 persen teori. GM yang bekerja minimal di hotel bintang satu. Degan minimal dua tahun pengalaman dibidangnya. Tidak hanya itu, para calon dosen vokasi tersebut juga diharuskan mengisi form aplikasi (APL 1), dan form assessment mandiri (APL 2), serta form perencanaan dan form soal-soal, ” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Penyelengara pelaksanaan kegiatan Recognition Prior Learning (RPL) Hidayat menambahkan. Uji kompetensi atau RPL, dibuka secara resmi oleh Ketua Komisi Pelaksanaan Sertifikasi BNSP Tatang Azrizal yang langsung memberikan paparan kepada para peserta. Serta tampak hadir juga Surono Ketua Komisi Perencanaan dan Harmonisasi Kelembagaan BNSP dan Inda Mapiliandari Ketua Komisi Pengendalian Mutu dan Sistem Informasi BNSP.
Sementara 7 asesor yang hadir antara lain : Chandra Hadi, Hadi Sutrisno, Christiani Aju Wulandari, Ali Hidayat, Ratna Dwi Rachmawati, Rondan Sukarnadi, dan Freddy Pantauw.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi terus digelarnya RPL ini. Karena akan mencetak tenaga didik handal dibidang Pariwisata. Menteri menyebut investasi di SDM ini paling tidak kelihatan wujudnya, tapi sangat terasa impact-nya.
“Sejak di PT Telkom saya paling komit, bahwa investasi SDM itu sangat penting untuk win the future customers. Karenanya sekolah perguruan tinggi pariwisata sudah sangat relevan,” ujar Menpar Arief Yahya.
Menteri asal Banyuwangi ini berpesan, dosen vokasi pariwisata nantinya harus menggunakan standar global.
“Di kita saat ini, menggunakan regional standar yang sering disebut ASEAN MRA, Mutual Recognition Arrangement. Kompetensi selevel ASEAN. Kalau mau bersaing di level global, gunakan global standard juga,” kata Menpar Arief Yahya.


























