Prihatin Pada Petani Sawit RI, Belanda Tawarkan Bantuan

Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan dalam pertemuannya dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda. deen Haag, Belanda, (26/7)

Jakarta, PONTAS.ID – Belanda menawarkan kepada Indonesia untuk membantu menyelesaikan beberapa masalah lingkungan hidup. Hal ini disampaikan Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan saat lakukan pertemuannya dengan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Sigrid Kaag, di Deen Hag, Belanda, Kamis (26/4).

“Menteri Kaag menanyakan apa yang bisa dibantu negaranya untuk membantu petani, khususnya petani sawit agar bisa melakukan praktek bertani yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Karena yang diminta oleh banyak orang adalah kelapa sawit berkelanjutan (sustainable), “ ujar Menko Luhut, seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterim PONTAS.ID, di Jakarta, Jumat ( 27/4/2018).

Dalam pertemuan tersebut Menko Luhut juga menyinggung tentang seminar yang difasilitasi oleh Vatikan pada bulan Mei mendatang di Roma yang akan membahas kelapa sawit dan dampaknya terhadap perdamaian dan kemanusiaan.

“Beliau menyatakan niatnya untuk hadir dan saya sampaikan bahwa seminar ini akan menghadirkan, bukan saja petani rakyat, tetapi juga unsur-unsur dari Parlemen Eropa, LSM, perusahaan-perusahaan multi-nasional pengguna produk kelapa sawit, dan negara-negara produsen sawit yang kebanyakan adalah negara berkembang,” jelas Menko Luhut usai pertemuan.

Luhut mengatakan, bahwa Menteri Kaag mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan Indonesia dalam melakukan pertemuan-pertemuan dan menjelaskan situasi Indonesia secara umum dan kelapa sawit Indonesia.

Selain sawit, hal lain yang dibicarakan kedua menteri ini adalah upaya pemerintah Indonesia dalam mengatasi beberapa masalah lingkungan, salah satunya Sungai Citarum.
Luhut menjelaskan dalam pertemuan itu, bahwa untuk membersihkan sungai sepanjang hampir 300 kilometer itu pemerintah membaginya menjadi 22 sektor yang dipimpin oleh personel militer maupun polisi.

“Saya sampaikan bahwa Pemerintah juga telah membuat Perpres agar siapa pun yang melanggar aturan bisa ditindak secara hukum. Karena ada ribuan industri di sepanjang sungai yang berkontribusi pada pencemaran sungai ini, mereka tidak memiliki fasilitas pembuangan limbah apalagi melakukan manajeman pembuangan,” ujar Menko Luhut.

Sampah plastik di sungai tersebut juga merupakan faktor paling mendesak untuk dibenahi di wilayah yang dihuni oleh lebih dari 27 juta jiwa ini. Menko Luhut menjelaskan dampak sampah plastik bari para penduduk, karena jika mikro plastik dimakan oleh ikan, ikannya dikonsumsi Ibu hamil akan menyebabkan generasi stunting.

“Saya katakan kami tidak ingin melihat generasi muda kami mengalami stunting. Menteri Kaag juga menawarkan untuk mambantu kita dalam melakukan manajemen pengolahan dan daur ulang limbah plastik. Saya sampaikan bahwa sudah ada perusahaan Belanda yang ikut melakukan hal ini di Sungai Citarum dan ia bersedia memberikan bantuan jika ada yang masih dibutuhkan dalam hal ini,” kata Menko Luhut.

Editor: Idul HM

Previous articleSektor Ekonomi Kreatif Dinilai Masih Terhambat
Next articleKomisi IX Buka Peluang Bentuk Pansus TKA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here