Jakarta, PONTAS.ID – Waralaba sebagai sebuah gerakan ekonomi dinilai tepat sebagai konsep untuk mengembangkan bisnis. Konsep waralaba juga sangat cocok dengan Indonesia karena masyarakat Indonesia sejak lama telah terbiasa dengan usaha sendiri. Demikian ungkap Presiden Joko Widodo. Presiden juga menyatakan bahwa 70-80 persen kegiatan ekonomi berada di usaha mikro, kecil dan menengah. Seseorang yang mengambil usaha waralaba, sebut Presiden Jokowi, berarti bisa naik kelas secara ekonomi.
Sementara itu, CEO Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menyatakan konsep waralaba merupakan bentuk dari ekonomi kerakyatan. Ia menambahkan bahwa waralaba juga bisa menjadi agen pemerataan ekonomi. Tidak sedikit peluang waralaba yang bisa dijalankan dengan investasi terjangkau.
“Di Indonesia tercatat ada 698 waralaba dengan jumlah gerai mencapai 24.400 yang terdiri dari 63 persen waralaba lokal serta 37 persen mancanegara. Industri waralaba juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 4,5 Juta tenaga kerja,” kata Anang selaku CEO Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) saat dihubungi PONTAS.ID melalui pesan singkat, Jakarta, Selsa, (24/4/18).
Perkembangan bisnis waralaba di Indonesia dalam 15 tahun terakhir dipandang cukup signifikan. Potensi bisnis waralaba untuk terus berkembang pun masih besar. Indonesia memiliki 34 provinsi dengan 516 kabupaten/kota yang bisa menjadi target pasar potensial para pengusaha waralaba. Kehadiran merek waralaba ternama di suatu kota bisa menjadi lambang kemajuan kota tersebut. Generasi milenial yang sangat sadar akan mereka atau brand merupakan pangsa pasar potensial, baik sebagai konsumen maupun sebagai pelaku usaha waralaba.
























