Menpar Prediksi Nasib Travel Agen Tergilas Perkembangan Teknologi

Menteri Pariwisata Arief Yahya

Bandung, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memprediksi nasib travel agen manual akan serupa sepert warung telekomunikasi (wartel), yang tergilas perkembangan teknologi jika tidak melakukan transformasi secara signifikan. Semua travel agen jika tidak berubah pasti mati, gulung tikar.

“Saya memprediksi manual travel agent bernasib sama dengan wartel sebagai walk in service beberapa tahun silam, tapi kini punah setelah kemunculan ponsel. Wartel tak ada lagi karena tak relevan. Orang gunakan handphone untuk komunikasi. Travel agent manual mungkin sekarang masih ada, tapi mudah kita tebak nasibnya seperti wartel, akan hilang seiring waktu,” kata Menpar Arief Yahya dalam rilis yang diterima PONTAS.ID, Jakarta, Jumat, (20/4/18).

Diceritakan soal pengalamannya menjadi Direktur Utama PT Telkom saat itu wartel mengalami masa jayanya. Saat itu, PT Telkom memiliki jaringan hingga 124.000 wartel di seluruh nusantara. Kini wartel tinggal kenanganan, akibat maraknya ponsel. Nasib serupa bakal dialami travel agent manual.

Karena itu, sambung menteri, travel agen harus berpikir untuk go digital karena pada praktiknya perusahaan-perusahaan dengan valuasi tertinggi di dunia merupakan perusahaan berbasis digital, di antaranya Apple, Alphabet Inc (perusahaan induk Google), dan Amazon.

Menteri mencatat sampai saat ini sekitar 70 persen wisatawan sudah menggunakan teknologi digital untuk search, booked, and payment atau mulai riset destinasi hingga pembayaran saat membeli paket wisata. “Nah ini harus diantisipasi oleh travel agent manual, jika tidak akan tergilas oleh perusahaan berbasis digital,” ungkapnya.

Dicontohkan, nilai perusahaan Traveloka lebih tinggi dari travel agen Panorama dan Bayu Buana. Sebagai perusahaan yang listing di bursa, value Traveloka mencapai hampir Rp 15 triliun. Sementara Panorama yang sudah puluhan tahun bergerak di bidang pariwisata memiliki value kurang dari Rp 1 triliun.

Menpar meyakinkan seluruh travel agen yang masih berbasis manual untuk melakukan transformasi menjadi perusahaan berbasis digital agar bisa berkembang sesuai zamannya.

Dilanjutkan, saat ini pemerintah hadir untuk menyediakan platform daring bagi travel agent manual. Tujuannya agar tidak hilang. Dan pemerintah menyiapkan platform yang namanya ITX (Indonesia Travel Xchange) agar para pengusaha pariwisata yang manual ini bisa mentransformasikan diri menjadi online (daring).

“Karena kalau mereka harus menyediakan sistemnya sendiri, tidak mungkin. Saya juga bersyukur tidak ada gejolak yang berarti di dunia pariwisata dalam merespons go digital. Karena di sektor lain, seperti transportasi, transportasi daring memancing gejolak serius di kalangan masyarakat,”

Hingga kini sekitar 70 persen manual travel agent di Indonesia bergabung dalam platform daring (online) yang disediakan pemerintah yakni Indonesia Travel Xchange (ITX). ITX ialah platform yang didorong pemerintah untuk mempertemukan penawaran dan permintaan dalam bentuk digital market place. “Kita sediakan ITX, mungkin sampai sekarang baru 70 persen yang daftar,” lontarnya

Ia menjelaskan banyak manual travel agent protes kepada pemerintah untuk menutup online travel agent. “Tapi saya bilang, online keniscayaan. Bukan melarang online travel agent, melainkan menyediakan online travel platform untuk manual travel agent,” ucapnya.

Previous articlePerubahan HPN Bisa Ubah Visi Misi Pers
Next articleJelang Ramadan, Pemerintah Diminta Perhatikan Harga Bahan Pokok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here