Menpar: Wisata Halal Menjadi Tren dan Gaya Hidup

Menpar Arief Yahya Bicarakan Pentingnya Sertifikasi Wisata Halal

Yogyakarta, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mendorong para pengusaha di industri pariwisata untuk mengurus sertifikasi halal. Pasalnya pangsa pasar untuk wisata halal saat ini masih sangat luas dan terbuka lebar. Sertifikasi halal ini akan menjadi daya tarik wisatawan beragama muslim untuk memakai jasa para pengusaha.

Arief menjelaskan wisata halal kini menjadi tren dan gaya hidup bagi sebagian besar umat muslim di dunia. Sayangnya pengusaha pariwisata di Indonesia masih belum maksimal menangkap peluang ini.

“Secara umum 30 persen penduduk muslim di dunia pergi wisata karena keimanannya. Misalnya ziarah, umrah, naik haji. Tapi baru 20 persen orang muslim yang datang ke Indonesia. Berarti masih ada peluang 10 persen lagi,” kata Arief selaku Menpar dalam rilis yang diterima PONTAS.ID, Jakarta, Jumat, (27/4/18).

Ia menjamin, tempat usaha yang sudah mengantongi sertifikasi halal akan lebih dipercaya wisatawan asing. Sebab dengan adanya bukti tertulis, wisatawan asing lebih percaya akan ke halalan suatu tempat atau makanan.

“Kalau wisatawan asing akan lebih percaya kehalalan suatu tempat jika melihat surat sertifikasi. Mereka ga percaya kalau hanya klaim semata. Sayangnya kalau saya minta pengusaha urus sertifikasi, mereka keras kepala, ga mau urus,” ujarnya.

Padahal, sertifikasi halal menjadi magnet promosi untuk meningkatkan kunjungan para pelancong dari Timur Tengah. Ia mencontohkan salah satu hotel di Jakarta yang sudah punya sertifikasi halal. Hotel ini jadi terkenal di wisatawan dunia karena memiliki label halal.

“Tempat makannya selalu dipenuhi wisman. Makanya sekarang kita lagi menyadarkan pengusaha pentingnya label dan sertifikat tertulis halal,” tegasnya.

Ditahun 2018, Kementerian Pariwisata menargetkan menarik sekitar 25 persen dari masyarakat muslim dunia untuk datang ke Indonesia melalui wisata halal. Target kunjungan ini meningkat 5 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 20 persen.

“Kita mau coba target kunjungan wisatawannya jadi lima juta dari sebelumnya 2 juta Wisman,” bebernya.

Tiga Provinsi disiapkan untuk menggarap wisata halal yakni Nusa Tenggara Barat, Sumatra Barat dan Aceh. Diharapkan seluruh pengusaha pariwisata, dan makanan dan minuman di tiga tempat ini segera memiliki sertifikasi halal.

Previous articleDPR: Kemenag Tak Serius Usut Travel Umroh Bodong
Next articleDitjen Bina Marga Prioritaskan Infrastruktur Logistik Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here