Pemerintah Didesak Investigasi Ambruknya Jembatan Widang Lamongan

Jembatan Babat-Widang Ambruk (ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota DPR, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz meminta pemerintah dan aparat penegak hukum segera mengusut dan menginvestigasi ambruknya jembatan Widang-Babat yang menghubungkan Lamongan dengan Tuban, tepatnya di jalur Babat-Widang.

“Pemerintah dan aparat penegak hukum harus melakukan investigasi dan pengusutan secara tuntas,” kata Neng Eem, dalam keterangan pers, Kamis (19/4/2018).

Hal itu, kata Neng Eem, untuk meredam keresahan masyarakat selaku pengguna jalan yang dikelola oleh pemerintah, terlebih status jalan tersebut adalah jalan nasional.

Menurut Anggota Komisi V DPR RI ini, sesuai dengan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 631/KPTS/M/2009 Tahun 2009 tentang Penetapan Ruas-ruas Jalan menurut Statusnya sebagai Jalan Nasional Bukan Jalan Tol.

“Tanggung jawab perawatan dan perbaikan jalan-jalan nasional yang berada di seluruh wilayah Indonesia dilakukan oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” ungkap politikus PKB.

Kewenangan dan tanggung jawab penyelenggara jalan juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Dijelaskan Neng Eem, di Pasal 24 ayat 1 UU tersebut dikatakan bahwa penyelenggara jalan wajib memperbaiki jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Sedangkan Pasal 24 ayat 2 menyebutkan bahwa dalam hal belum dapat dilakukan perbaikan jalan maka penyelenggara jalan wajib memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, Neng Eem mempertanyakan laporan dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR yang menyebutkan bahwa jembatan tersebut pernah mengalami kerusakan pada titik yang sama dengan lokasi kejadian ambruknya jembatan tersebut.

“Kerusakan itu terjadi pada akhir Oktober 2017 dan perbaikannya sudah selesai dilakukan pada November 2017. Itu mengindikasikan kondisi jembatan seharusnya berada dalam pengawasan yang ketat karena kondisinya sangat mengkhawatirkan dan rawan kecelakaan,” ungkapnya.

Menurut dia, pemerintah harus bekerja secara serius dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Kalau Pemerintah tidak serius, terburu-buru, atau lalai, maka yang pertama kali menjadi korban adalah masyarakat pengguna jalan,” Neng Eem menambahkan.

Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan ambruknya Jembatan Widang di Tuban, Selasa (17/4/2018) kemarin tak akan mengganggu arus mudik. Kejadian tersebut, antara lain akan diantisipasi melalui rekayasa lalu lintas yang disiapkan pihaknya.

Budi menjelaskan, nantinya kendaraan kecil, baik dari arah Tuban maupun arah Lamongan akan dibuat dua arah di Jembatan Widang Baru. Kendaraan dari arah Lamongan yang sudah terlanjur masuk antrian memasuki Jembatan Widang Baru, akan di atur secara bergantian. Kendaraan kecil. baik dari arah Lamongan sampai arah Tuban kemudian bisa menggunakan Jembatan Widang Baru secara bersamaan.

Adapun untuk truk pengangkut barang dari arah Surabaya ke Tuban, akan diarahkan dari Paciran-Gondong-Tuban. Sedangkan kendaraan yang sudah masuk ke arah Lamongan akan diarahkan ke Cepu-Blora-Purwodadi. Kendaraan dari arah Tuban ke Surabaya akan dialihkan ke Jalan Dendles-Tuban-Gondong-Paciran-Surabaya.

Menurut Budi, kementerian PUPR telah berkomitmen untuk memperbaiki jembatan dalam kurun waktu 45 hari. Dengan demikian, jembatan ini diharapkan sudah dapat berfungsi dua minggu sebelum Lebaran.

“Tapi kami juga menyiapkan, seperti yang kami sampaikan tadi jalur itu adalah lewat utara dan selatan yang memungkinkan sebagai alternatif,” jelas Budi dalam keterangan pers, Kamis (19/4/2018).

Lebih lanjut, Budi menjelaskan ada dua alternatif guna mengantisipasi kejadian ini. Pertama adalah memindahkan angkutan truk menggunakan kapal Ro-Ro dari Surabaya ke Semarang. Diharapkan satu kapal Ro-Ro itu bisa mengangkut 200 truk dari Surabaya langsung ke Semarang.

“Kita punya alternatif menggunakan kapal Ro-Ro, karena itu sangat efektif. Satu kapal Ro-Ro itu bisa mengangkut 200 truk jadi bisa saja kita buat dari Surabaya langsung ke Semarang,” jelas Budi.

Alternatif kedua adalah mengefektifkan angkutan-angkutan massal seperti bus. Menurut Budi, akan terdapat sejumlah bus yang beroperasi antara Semarang dan Surabaya. Bus itu diharapkan dapat memindahkan penggunaan mobil pribadi ke bus.

“Mungkin kami akan mengefektifkan bus-bus itu beroperasi antara Semarang-Surabaya, dan juga bila dimungkinkan kami akan memberikan semacam mudik gratis dari Surabaya – Semarang atau sebaliknya sehingga kepadatan lalu lintas mobil-mobil kecil bisa ditekan,” terang Budi

Melalui alternatif yang dilakukan ini, Menhub optimis bisa memberikan solusi, baik bagi pemudik maupun kendaraan berat yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada masa angkutan lebaran

Diketahui, jembatan Cincin Lama merupakan jembatan rangka baja Callender Hamilton dengan panjang total 260 meter yang melintas di atas sungai Bengawan Solo.

Jembatan tersebut terletak di Km SBY 72+240 ruas jalan nasional dan termasuk dalam jaringan jalan lintas utara Provinsi Jawa Timur yang menghubungkan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Lamongan.

Jembatan terdiri dari lima bentang dan memiliki lebar 7 meter, tidak termasuk trotoar di kiri dan kanan jembatan. Sementara bangunan bawah menggunakan pondasi tiang pancang beton.

Previous articleSambut Hari Kartini, Go-Life Hadir Permudah Para Wanita Kekinian
Next articleBekraf Inginkan Keraton Merupakan Istana yang Mengandung Unsur Kebudayaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here