Revolusi Industri 4.0, Ini Pekerjaan yang Bakal Hilang

Dirjen Binalattas Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Ketenagakerjaan mengajak masyarakat tidak khawatir akan hilangnya pekerjaan sebagai akibat revolusi industri 4.0. Dari berbagai penelitian seperti Oxford , McKensie, Global Institut maupun ILO memang memprediksi 50 persen pekerjaan akan hilang.

“Tetapi perlu diketahui juga, akan muncul pekerjaan-pekerjaan yang saat ini belum ada. Jumlahnya kurang lebih 65 persen,” Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono, dalam Forum Merdeka Barat di kantor Kementerian Kominfo Jakarta, Senin (16/4/2018).

Meski demikian, Bambang mengatakan, di tahun 2021-2025 pekerjaan mengenai pemeliharaan dan instalasi, mediasi, medis, analis data, manajer sistem informasi, konselor vokasi, analis dampak lingkungan akan bertumbuh.

Sebaliknya pekerjaan yang akan mengalami penurunan adalah resepsionis, tukang kayu, disain tiga dimensi, pengolah semikonduktor, teller bank, travel agents, juru masak fast-food dan operator mesin.

Bambang mengungkapkan, diprediksi tahun 2026-2030, jenis pekerjaan perancang, pemograman kecerdasan buatan, perancang dan pengendali mesin otomasi, perancang sofware dan game online akan bertumbuh.

“Tapi jenis pekerjaan ahli las, staf akuntan, operator mesin, supir truk dan ahli mesin mulai tersingkir. Padahal jumlah supir truk kita ada sekitar 6 juta,“ katanya

Bambang kemudian mengingatkan, permasalahan tenaga kerja sejatinya berawal dari sektor hulu yakni pendidikan. Dia menilai, pendidikan di Indonesia belum mampu mengantarkan sepenuhnya tenaga kerja masuk ke dunia kerja.

“Kalau dari sisi hulu-nya sudah dibenahi dengan baik, maka ke depan akan berjalan baik. Patut dipikirkan bersama, sudah seharusnya melakukan reformasi pendidikan, “ katanya, seperti dikutip dari laman kemnaker.go.id, Selasa (17/4/2018).

Transformasi Industri
Bambang juga menegaskan, adanya perkembangan teknologi, yang paling pertama dibutuhkan adalah transformasi industrinya.

Karena itu lanjut Bambang, setiap sektor industri harus membuat strategi transformasi industrinya. Baik industri pertanian, kimia, makanan minuman, listrik, otomotif dan sebagainya.

“Revolusi industri pasti akan memunculkan posisi atau jabatan-jabatan baru yang sekarang belum ada. Adanya industri baru, jabatan yang sekarang ada, menjadi jabatan kadaluarsa. Kita membutuhkan pemetaan jabatan baru itu,” ujarnya.

Pemetaan Jabatan Baru
Dipaparkan Bambang, pihaknya hingga kini terus melakukan pemetaan jabatan baru sebagai bentuk antisipasi “terbunuhnya” sejumlah pekerjaan akibat perkembangan teknologi informasi.

Pemetaan utamanya menyangkut sektor pekerjaan yang bakal tumbuh dan menyusut 15 tahun kedepan.

Dalam menyiapkan skill-skill baru yang dibutuhkan untuk jabatan tersebut, Bambang mengatakan, harus ada identifikasi perubahan kompetensi yang dibutuhkan industri dan memfasilitasi pelatihan SDM untuk pengembangan kompetensi sesuai kebutuhan industri.

“Jadi menghadapi RI 4.0, pertama kita harus punya strategi transformasi industri, kedua membuat pemetaan jabatan baru dan ketiga pemenuhan skill skill kompetensi baru untuk pemenuhan jabatan-jabatan baru tersebut, “ katanya.

Bambang mengungkapkan pihaknya telah membuat grand design atau rencana induk pelatihan vokasi. Tahun 2018 Kemnaker telah memberikan pelatihan kepada 150 ribu orang. “Kalau diberi kewenangan besar, kita akan mengoptimalkan sarana dan prasarana sumberdaya yang ada untuk meningkatkan tenaga kerja baru, “ katanya.

Editor: Hendrik JS

Previous articleSusi Ingin Kepulauan Indonesia Harus Bisa Kalahkan Maladewa
Next articleBayar Rp 3.000, Pengguna KRL Bisa Naik Kereta Bandara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here