CPO Ditolak Di Eropa, Luhut Ditunjuk Presiden Sebagai Utusan

Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

Jakarta, PONTAS.ID – Parlemen Eropa dalam voting tanggal 18 Januari menyetujui Undang-Undang energi terbarukan di dalamnya termasuk melarang penggunaan minyak sawit untuk biodiesel mulai tahun 2021.

Rencana tersebut mencakup larangan penggunaan minyak sawit di bahan bakar motor dari tahun 2021. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, yang mencakup hampir 90 persen pasokan global.

Crude Palm Oil (CPO) sawit Indonesia yang ditolak Uni Eropa juga dijelaskan oleh Menko Luhut, “Isu sawit ini di Eropa, memang saya diperintahkan Presiden untuk pergi ke sana sebagai utusan khusus untuk ketemu dengan Uni Eropa. Untuk biodiesel. Itu bidang saya. Nanti jangan bilang, kok sawit saya yang urusin”, ungkap Luhut melalui keterangan tertulis Humas Menko Maritim yang diterima PONTAS.id dijakarta, Senin (9/4/2018).

Menurut Menko Luhut, hal ini dikarenakan masalah CPO Sawit menjadi perhatian Kemenko Kemaritiman terkait Biodiesel yang menggunakan bahan baku CPO adalah salah satu energi baru terbarukan yang bisa mengganti energi fosil.

“Biodieselnya, energi, ini bidang saya. Sawit bisa jadi energi baru terbarukan. saya mau ke sana mau ketemu di bursa eropa tanggal 23-24 bulan ini.” Pungkas Menko Luhut.

Presiden Joko Widodo mengangkat isu tersebut saat KTT Asean-EU di Manila pada awal November 2017. Dia kemudian meminta Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk bergabung dengannya dalam upaya untuk membalikkan sikap dan kebijakan diskriminatif terhadap minyak sawit.

Parlemen Eropa meminta Komisi Eropa untuk mengambil langkah-langkah untuk menghapuskan pada tahun 2020 penggunaan minyak nabati termasuk minyak sawit, yang dianggapnya sebagai penyebab utama deforestasi atau gundulnya hutan.

Industri kelapa sawit di Indonesia juga dipersalahkan atas pelanggaran hak termasuk pekerja anak, serta pencemaran dari kebakaran hutan musiman yang ditetapkan untuk membersihkan lahan untuk perkebunan, dan hilangnya keanekaragaman hayati dan kebiasaan alami spesies langka seperti orangutan dan Harimau Sumatera.

Karena kelapa sawit merupakan penggerak ekonomi utama yang menghasilkan ekspor lebih dari 17 miliar pada tahun 2016. Namun saat ini, minyak kelapa sawit menghadapi kampanye dan diskriminasi negatif di Eropa dan Amerika Serikat.

Sebagian besar impor minyak kelapa sawit Eropa digunakan untuk membuat biofuel, sehingga produsen utama dari industri ini menyebabkan kekhawatiran karena mereka khawatir permintaan keseluruhan akan turun.

Editor: Idul HM

Previous articleDPD Minta Kemdikbud Evaluasi Berbagai Kendala UNBK SMK
Next articleDPR Dorong Pemerintah Segera Kirim Draft RUU Perlindungan Data Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here