Kemenko Maritim Dorong Pengembangan Wisata Bahari

Ilustrasi kapal

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengadakan kegiatan Focus Group Discussion tentang Pelayanan Kepabeanan, Keimigrasian, Karantina dan Kepelabuhanan terhadap Kedatangan Kapal Wisata (Yacht) Asing ke Indonesia, Banten (22/3/2018).

Acara ini juga dihadiri oleh TNI AL, Badan Keamanan Laut (BAKAMLA), Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Badan Karantina, Direktorat Jenderal Imigrasi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) .

“Kunjungan yacht ke berbagai pulau di Indonesia ini harus bisa mendorong ekonomi lokal”, kata Wakil Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Kementerian Pariwisata Asep D. Mohammad, Seperti dikutip dari siaran pers maritim.go.id, Selasa(23/3/2018).

Saat yacht ini sandar, wisatawan kita dorong untuk menikmati kuliner lokal dengan bahan baku lokal, agar warga langsung dapat menerima manfaat dari pariwisata.

Demikian pula di entry point kita siapkan money changer agar wisatawan dapat menukar uang lebih cepat, untuk mempermudah transaksi.” ujar Asep,

Asep juga menegaskan, bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika perlu juga didorong untuk mengembangkan internet sampai ke pulau-pulau karena di masa depan masyarakat kian terbiasa bertransaksi tanpa tunai akan membutuhkan internet dalam bertransaksi.

“Yacht ini bagian dari pariwisata bahari yang bisa mendorong ekonomi, karena para yachters umumnya berjiwa avonturir jadi menggemari hal-hal baru dan eksotik, karakter ini bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan ekonomi lokal”.

Asisten Deputi Jasa Kemaritiman Kemenko Maritim Okto Irianto menegaskan bahwa CIQP harus tetap menjalankan fungsinya dengan baik. CIQP tetap memiliki kewenangan sesuai tugas pokok dan fungsi terkait keamanan.

“Yang kita relaksasi adalah kemudahan izin masuknya, tapi peraturan harus tetap ditegakkan, penegakkan hukum apalagi terkait keamanan negara tetap menjadi perhatian”. tegas Okto.

Mengembangkan Marina di Indonesia
Pada tahun 2017 tercatat pada log yachters.co.id Indonesia dikunjungi 130 kapal yacht yang telah terdaftar dalam kegiatan sail. Sementara kapal-kapal yacht yang berlayar ke Indonesia secara individu (diluar agenda sail) mencapai 2000 kapal.

Kapal-kapal ini membutuhkan marina untuk bersandar, sementara telah ditegaskan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, bahwa Ditjen Hubla tidak melakukan pembangunan marina, padahal pada tahun 2018 dengan adanya 5 agenda sail ditargetkan setidaknya 150 yacht akan berlayar ke Indonesia ditambah pelayaran secara individu bisa jauh lebih banyak lagi.

Asisten Deputi Jasa Kemaritiman Okto Irianto pada kesempatan ini menyampaikan bahwa sampai saat ini Indonesia baru memiliki 7 full scale marina.

“Bayangkan Indonesia seluas ini, dengan pulau-pulau yang sangat cantik baru memiliki 7 full scale marina. Padahal idealnya tiap 200km seharusnya ada marina. Dengan potensi wisata bahari seperti ini, investasi pembangunan marina sangat bisa dikembangkan”.

Okto mengatakan saat ini sudah ada investor dari Australia mengembangkan marina di Lombok, “Investor ini juga telah punya komitmen untuk membangun satu marina lagi. Saya pikir swasta memang perlu lebih banyak didorong untuk mengembangkan marina di Indonesia”. Pungkasnya.

Editor: Idul HM

Previous articlePerbankan Didesak Percepat Migrasi Kartu ATM Magnetic ke Chip
Next articleEramas Akan Bawa Sumut ke Masa Keemasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here