Jumlah Industri UMKM di Jatim Masih Minim Ekspansi ke Luar Negeri

Tim Ahli KADIN Jawa Timur Jamhadi, (Foto:Ist)

Surabaya, PONTAS.ID – Produk Domestik Regional Bruto PDRB Jatim Tahun 2017 yang mencapai Rp2.019,20 triliun rupiah, sebanyak Rp1.100 trilun rupiah atau 54,98 persen berasal dari sektor UMKM. Namun besarnya jumlah industri kecil menengah atau UMKM di Jawa Timur masih belum diimbangi dengan ekspansi hingga ke luar negeri.

Menurut Tim Ahli KADIN Jawa Timur Jamhadi, pelaku UMKM di Jawa Timur masih perlu didampingi agar mampu menembus pasar global. Selain meningkatkan produksinya, UMKM juga perlu menjaga kualitas produknya termasuk dari sisi packaging atau kemasan.

“Kulitas ekspor di Jawa Timur sangat punya peluang karena di Jatim ini sisi PDRB kita 30 persennya dari sisi industri sehingga masih memungkinkan leading di eksport dibandingkan daerah lain di Indonesia. Tentu, kalau UMKM kita melihat masih perlu sentuhan lagi untuk mereka bisa meningkatkan eksportnya. Saat ini kita sedang fokus bagaimana UMKM itu dibina lagi baik dari sisi produksinya, intensitasnya termasuk kualitasnya,” kata Jamhadi selaku Tim Ahli KADIN, Surabaya, Jumat, (23/3/18).

Jamhadi mengatakan selama ini pengemasan produk UMKM di Jatim masih sangat sederhana, sehingga membuat hasil UMKM Jatim sulit menembus pasar ekspor.

“Jika packaging sudah memadai, kami dari Kadin siap membantu memasarkan produk ke luar negeri karena yakin bakal diterima positif oleh konsumen. Kalau untuk saat ini potret industri Kita, 30,76 persen PDRB jatim UMKM itu dominasinya adalah golongan Small Medium Enterprise sekitar 97 persen. Dari sisi prosentasenya memang besar, tetapi dari sisi cakupan jumlahnya kecil. Kalau dilihat dari kuantiti kita masih tidak lebih dari 20 persen saja untuk pasar eksport, sisanya masih untuk perdagangan antar pulau Indonesia Timur,” ungkapnya.

Jamhadi yang juga Ketua KADIN Kota Surabaya ini menyebut banyak hal yang harus dilakukan, setidaknya Packaging itu merupakan prioritas utama untuk merebut pasar ekspor. Kalau untuk permodalan, banyak yang sudah memberikan dukungan mulai dari Bank UMKM, KUR, maupun LPDB.

“Pemerintah sendiri telah memberikan perhatian cukup besar seperti keberlangsungan pelaku UKM dengan kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR), pengurusan izin usaha, pembiayaan UKM melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), dan pendampingan UKM, tapi kualitas produk dan expired date harus diperhatikan lagi melalui sentuhan teknologi pangan,” jelasnya.

Direktur PT. Tata Bumi Raya itu juga menegaskan, Riset pasar harus dilakukan dengan baik, menjaga intensitas produksi, kualitas, dan supplai agar setiap hari Jatim bisa memainkan perannya di pasar global lebih baik lagi. Termasuk juga untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi impor.

Previous articleKemenPUPR Terapkan Teknologi Aspal Plastik dan Karet Buat Pemeliharaan Jalan Nasional
Next articleJokowi Disarankan Keluarkan Perppu Tentang KPK