Tinggalkan Dunia Wartawan dan Terjun ke Politik, Ini Jawaban Grace Natalie

Ketua Umum PSI, Grace Natalie bersama Raja Juli Antoni, Tsamara Amani saat pengambilan nomor urut parpol di KPU RI /Foto:PONTAS.id

Jakarta, PONTAS.ID – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie nekat terjun ke dunia politik dan meninggalkan profesi jurnalis (wartawan), lantaran tertantang oleh gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“‎Kebetulan saya kenal mereka (Jokowi dan Ahok), ternyata orang baik di politik bisa membuat perubahan yang jauh lebih baik,” kata Ketua Umum PSI, Grace Natalie, ketika dihubungi PONTAS.id, Jumat (16/3/2018) sore.

Dijelaskan Grace, sejak dirinya kecil dan tumbuh di Jakarta, Grace mengaku tidak pernah merasakan perubahan dalam hal pembangunan Ibu Kota, sebelum akhirnya Jokowi dan Ahok mulai menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta ketika itu.

“Keduanya bisa menyelesaikan masalah itu hanya dengan membentuk Pasukan Oranye dan mengeruk sungai secara rutin. Jokowi dan Ahok membuat kita sebagai warga merasa dilayani, dipermudah. Pemerintah selalu hadir di setiap permasalahan warga,” katanya.

Dari situ, Grace dan rekan-rekannya di PSI percaya bahwa bila di tangan orang benar, keadaan bisa berubah menjadi benar dan baik.

“Untuk itu kami mengumpulkan orang-orang baik se-Indonesia yang kompeten. Mulai dari seniman, olahragawan, dan lain-lain. Lalu kita sama-sama berjuang membuat perubahan sesuai apa yang kita kagumi. Sebab upaya memperbaiki bangsa tidak bisa dilakukan tanpa masuk ke dunia politik,” katanya.

Politik Anak Muda
Terkait kelompok anak muda milenial yang menjadi sasaran utama partai yang memiliki nomor urut 11 ini, Grace mengatakan, hal ini dilakukan pihaknya untuk mendorong generasi muda Indonesia lebih perduli dengan politik.

Grace mencontohkan, fenomena Brexit di Inggris dan kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat yang menunjukkan tingginya aktivitas anak-anak muda di media sosial, tetapi tidak mau datang ke TPS untuk memilih.

“Generasi milenial sangat fasih dengan perkembangan teknologi, serta kreatif dan energik, kreatif. Sehingga perlu didorong agar partisipasi politiknya juga tinggi,” kata Grace.

Strategi ini kata Grace mulai membuahkan hasil bagi partai yang didirikannya ini, “Dari penjaringan calon anggota legislatif PSI pada tahap pertama, ada 1.155 orang yang mendaftar, 60 persennya adalah generasi milenial,” kata dia.

Ia menyebutkan penjaringan caleg PSI pada gelombang pertama didominasi kalangan profesional muda. Mulai dari arsitek, dokter, guru, teknisi, penulis, lawyer, dan lain sebagainya.

Kehadiran para profesional ini diakui Grace dapat memperkuat situasi politik nasional serta posisi PSI, lantaran para profesional ini sudah teruji dalam bidangnya masing-masing.

“Kami memasang target memperoleh minimal 20 persen sesuai `presidential threshold`. Harapan kami, pada Pemilihan Umum 2024 bisa mengajukan calon presiden sendiri,” kata Grace mantap.

Perjalanan Karir Grace
Grace Natalie lahir di Jakarta pada tanggal 4 Juli 1982, merupakan mantan pembawa acara berita dan jurnalis di berbagai media yaikni SCTV, ANTV, dan TV-One.

Pada tahun 2012, Grace ditawari oleh Saiful Mujani untuk menjadi bekerja di lembaga konsultan dan penelitian politik.
Dan pada Juni 2012, Grace Natalie resmi meninggalkan TV-One dan menjadi Chief Executive Officer (CEO) Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Dua tahun bekerja di SMRC dan belajar lebih dalam tentang politik, Grace Natalie pun menginisiasi pembentukan partai baru.
Pada tahun 2014, Grace Natalie resmi terjun ke dunia politik dan mendirikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sebelum mengawali karirnya, Grace Natalie mengenyam pendidikan di SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta.
Lulus dari SMA, ia meneruskan ke jenjang berikutnya dengan mengambil jurusan akuntansi di IBII (Institut Bisnis dan Informatika Indonesia).

Perkenalannya dengan dunia jurnalistik dimulai ketika SCTV menyelenggarakan kompetisi SCTV Goes to Campus untuk mencari bibit-bibit muda berbakat.

Pada tahun-tahun pertamanya sebagai jurnalis ia banyak turun ke lapangan meliput berbagai peristiwa, mulai dari berita kriminal, politik, ekonomi, dan peristiwa-peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat.

Dari SCTV ia pindah ke ANTV, dan tak lama kemudian dari ANTV ia pindah lagi ke TVOne mengikuti seniornya, Karni Ilyas.

Selama karirnya di dunia jurnalistik, tercatat, Grace Natalie pernah beberapa kali melakukan wawancara ekslusif dengan tokoh-tokoh duia, seperti Abhisit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand), Jose Ramos Horta (presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes), dan George Soros (Pengusaha dan Miliarder AS)

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

Previous articleDPS Pilgub Jabar Mencapai 31,7 Juta
Next articlePiIkada Sumut, Pertarungan Tanpa Politik Primordial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here