Agar Rupiah Kuat, Pemerintah Harus Perkuat Fundamental Perekonomian

Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro, (Foto:Ist)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus mendekati level 13.800 diwaspadai oleh pemerintah. Pelemahan rupiah dinilai pemerintah dipicu oleh arus modal asing yang terus keluar dari Indonesia (capital outflow).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pernyataan Gubernur Bank Sentral AS The Fed Jerome Powell yang menyebut AS perlu lebih agresif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi membuat dana asing di negara-negara berkembang (emerging market) kembali AS.

Akibatnya, mereka membeli dolar AS untuk membeli obligasi pemerintah AS sehingga dolar menguat. Di Indonesia, penguatan dolar membuat rupiah tertekan karena mereka keluar dari pasar obligasi dan pasar modal.

“Yang challenging itu outflow. Saat ini indeks terkoreksi cukup lumayan, trading surat utang negara kita juga yield-nya naik. Tentu ini perlu kita waspadai,” kata Bambang selaku Bappenas, Jakarta, Kamis (8/3/18).

Menurut Bambang, Bank Indonesia (BI) tentu sudah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi untuk mencegah rupiah terlalu overshoot. Hal ini terlihat dari turunnya cadangan devisa per akhir Februari 2018 sebesar 3,92 miliar dolar AS.

Kendati demikian, kata dia, intervensi BI saja tidak cukup. Pemerintah harus terus memperkuat fundamental perekonomian supaya rupiah bisa menguat. Secara fundamental, rupiah harus diperkuat dengan mendongkrak ekspor, baik barang maupun jasa. Dari sisi barang, Indonesia juga menghadapi tekanan meningkatnya impor seiring pemulihan ekonomi.

“Dari sisi neraca jasa, kita juga punya ekspor jasa. Di situlah salah satu prioritas pemerintah yang memang tengah terus digencarkan yaitu tourism untuk bisa memperkuat rupiah secara permanen,” kata Bambang.

Neraca perdagangan jasa Indonesia terus mengalami defisit sejak 2012. Untuk itu, Bambang mendorong pentingnya pariwisata untuk menekan defisit jasa. Tidak hanya itu, pariwisata juga bisa memberikan efek berganda atau multiplier effect yang besar, sehingga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Tingkatkan awareness pariwisata itu penting dan multiplier effect-nya besar. Tapi harus ada investasi oleh daerah itu sendiri, baik dari APBD maupun swasta,” kata dia.

Ia menilai, Indonesia saat ini masih tergantung pada Bali untuk mendorong devisa dari sektor pariwisata Investasi dan pengembangan untuk menciptakan Bali-Bali baru perlu terus diintensifkan.

“Investasi itu bukan hanya mendatangkan pabrik, pariwisata itu juga penting. Mengapa lompatan jumlah turis kita tidak sespektakuler Jepang? karena ketergantungan kita terhadap Bali. Pemerintah sudah bikin 10 Bali baru, tapi itu kan rencana yang butuh waktu untuk dikapitalisasi,” ucapnya.

Previous articleMegawati Menerima Gelar Doktor Honoris Causa dari IPDN
Next articleAmien Rais Yakin Tidak Akan Ada Capres Tunggal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here