Operasi Pasar Sudah Dilakukan, Harga Beras Masih Tinggi

Operasi Pasar Beras, (Foto:Ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Melambungnya harga beras di pasaran masih sangat dirasakan oleh masyarakat, sudah dilakukan opersi pasar pun selama dua minggu ini harga beras pun masih dalam grafik naik. Harga beras di pasar tradisional hingga kini masih stabil tinggi. Padahal, titik operasi pasar sudah diperluas untuk menekan harga.

Humas Perpadi (Penggilingan Padi) Kabupaten Gunung Kidul, Joko Widiatmoko mengatakan setelah dua minggu operasi pasar bersama Bulog Divre Yogyakarta digelar, ternyata belum menunjukkan tanda-tanda harga kebutuhan pokok masyarakat itu akan turun. “Operasi pasar akan kami lanjutnya dengan harga jual beras di bawah HET,” kata Joko.

Secara terpisah, Direktur Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo mengatakan, kenaikan harga beras saat ini alamiah. Kebutuhan beras di Indonesia turut dipenuhi dari impor dengan harga murah. Hal itu memicu rata-rata harga beras dalam negeri cenderung rendah. Namun, ketika keran impor ditutup, beras lokal masih lebih mahal. “Jadi kenaikan harga ini konsekuensi logis tanpa perlakuan apa pun pasti naik. Ini yang harus dijelaskan pemerintah,” ujar Arief selaku Direktur Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta, Jumat, (19/1/18).

Realisasi operasi pasar beras oleh Bulog terhitung sejak 1 hingga 15 Januari 2018 mencapai 87.407 ton. Penyaluran beras harian sekitar 8.500 ton. Lokasi operasi juga telah ditambah menjadi 1.838 titik di seluruh Indonesia dari posisi Desember 2017 hanya 1.172 titik.

Direktur Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, pemerintah dan Bulog berkeyakinan kenaikan harga saat ini akibat kondisi permintaan dan pasokan barang tak seimbang. Asumsi awal, berdasarkan pantauan langsung di lapangan, volume permintaan konsumen cukup stabil. “Diambil kesimpulan harga bergerak naik akibat pasokan yang tidak bisa mengimbangi permintaan,” ujarnya.

Menurut Djarot, operasi pasar tidak efektif saat kekurangan pasokan di pasar jauh lebih besar dari kemampuan pasokan yang ada. “Saya akan tambah (pasokan) lagi jika itu belum cukup. Namun, jika kekurangannya melampaui kemampuan Bulog, ya makanya perlu impor,” kata Djarot.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PHIPS) Selasa (16/1), rata-rata harga beras medium I naik 0,41 persen menjadi Rp 12.150 per kilogram (kg) dan beras medium II naik 0,42 persen menjadi Rp 12 ribu per kg. Secara historis, rata-rata harga tersebut sama sejak pekan lalu. Harga tertinggi di Papua Barat mencapai Rp 14.250 per kg dan terendah di Gorontalo Rp 10 ribu. Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium sesuai Permendag No 57/2017 Rp 9.450, Rp 9.950, dan Rp 10.250.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here