OPINI
KECINTAAN kita akan daerah Tanjung Jabung Timur dengan semboyan “Sepucuk Nipah Serumpun Nibung”, telah menumbuhkan semangat untuk terus berjuang menjadikan Tanjung Jabung Timur terus berkembang dan lebih maju kedepannya. Maju tidaknya pembangunan di suatu daerah sangatlah tergantung dengan pemimpinnya (Kepala Daerah).
Agar Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang berada di Provinsi Jambi bisa berkembang dan lebih maju ke depannya dibutuhkan:
1.Pemimpin Berkarakter
Pemimpin memainkan peranan yang sangat penting dan Strategis dalam menentukan perjalanan suatu daerah, sehingga prilaku politik yang eksklusif, elitis, Arogan, Sekterian dan pencitraan sudah harus ditinggalkan. Karena hal tersebut dapat menciptakan manajemen komplik yang dapat merusak sistem sosial sehingga kerja-kerja politik tidak bisa berjalan secara sehat dan kompetitif.
Seharusnya pemimpin mampu menciptakan rasa keadilan, membangun manajemen partisipatif, inklusif, humanis, lebih komunikatif, akomodatif dan responsibility serta mampu mengkonsolidasikan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi dan mempunyai standar moral yang cukup.
Politik bukanlah tujuan dan sekedar jabatan, tapi merupakan sarana untuk melakukan perubahan yang lebih baik, karena hakekat politik sesungguhnya mampu mengangkat harkat martabat dan memanusiakan manusia.
2.Pemimpin Visioner
Pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan dan memiliki cara pandang (Mindset)yang melahirkan konsep dalam melakukan perubahan serta memiliki studi komparatif yang jelas.
Untuk melaksanakan ide dan gagasan dalam pembangunan suatu daerah diperlukan stabilitas politik dan kekayaan hasanah berfikir secara global. Karena jika suatu daerah terlalu tinggi tensi politiknya , maka tingkat pembangunannya berjalan lambat bahkan mengalami stagnasi.
Elit politik harus mampu mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat. Dalam kontestasi politik sudah waktunya untuk mempertaruhkan program dan gagasan, bukan hanya menawarkan kapitalisem dalam politik.
Pemimpin Fisibel
Pemimpin yang mampu mengkolaborasi dan mensinergikan potensi sumber daya manusia dalam mewujudkan program sesuai dengan platform yang telah direncanakan.
Semangat dan hakekat otonomi daerah telah mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip: demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah.
Lembaga non pemerintah tidak sekedar menjadi penonton dan oportunis kekuasaan, namun mampu menjadi sosial kontrol, cek and balancing, memiliki etika politik dan memahami mekanisme domokrasi serta mengkritik secara konstruktif dengan konsep yang jelas. Sehingga pembangunan bukan sekedar berorientasi proyek, tapi berdasarkan kebutuhan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan secara optimal.
Ada tiga konsep yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah:
- Melakukan optimalisasi keuangan daerah secara berkelanjutan;
- Melakukan reformasi birokrasi yang berbasis kompetensi; dan
- Melakukan pembangunan infrastruktur terintegrasi.
Di usia yang ke 20 tahun, Tanjung Jabung Timur dengan potensi daerah yang luar biasa, semestinya sudah menemukan jati diri dalam menentukan arah dan tujuan serta memiliki ikon yang monumental.
Pemimpin dari Timur
Dalam era transformasi dunia, khususnya Indonesia kita bisa belajar dan mencontoh Bapak Nurdin Abdullah dalam memimpin Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawaesi Selatan yang telah memperoleh 50 penghargaan tingkat nasional antara lain: peraih Anugrah People of the Year (POTY) tahun 2012 untuk kategori kepala daerah terbaik se Indonesia, tokoh perubahan dalam pembenahan birokrasi, 4 kali berturut-turut memperoleh Piala Adipura, 3 tahun berturut-turut meraih Otonomi Award dan berhasil memenangkan Innovative Goverment Award (IGA) pada tahun 2013.
Semenjak memimpin Bantaeng, ia langsung menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang yang mampu bekerja, ia bekerja dengan segenap kejeniusan pikiran dan keterampilan tindakan, bekerja dengan segenap kesungguhan dan ketulusan hati, segalanya diorientasikan sebagai wujud tanggungjawab moral dan intlektual.
Keberpihakkannya kepada rakyat adalah harga mati. Menurutnya politik adalah ranah strategis untuk melakukan perubahan, Cita-cita luhur, idialisme dan kemuliaan pikiran lainnya, sehingga idialisme itu tidak lagi hidup sekedar harapan abstrak melainkan mewujud sebagai hasil yang nyata.
Kesungguhan dan keberpihakan kepada rakyat yang ditunjukkan dalam kerja nyata telah membuat masyarakat Bantaeng mencintainya, namanya bahkan harum hingga di luar Bantaeng. Di tingkat Nasional Nurdin Abdullah menjadi sebuah ikon baru “Pemimpin dari Timur”.
Bukti kecintaan masyarakat Bantaeng atas Nurdin Abdullah adalah dengan terpilihnya kembali menjadi Bupati Bantaeng di periode yang kedua dengan tanpa memasang baliho. Andai saja bisa diperpanjang hingga tiga periode, tidak menutup kemungkinan dia terpilih untuk periode yang ke tiga.
Kesempatan untuk memimpin daerah yang lebih luas terbuka lebar dan kini Nurdin Abdullah telah berhasil memenangkan pertarungan dan menjadi gubernur Provinsi Sulawesi Selatan. [MULYADI, Pemerhati Sosial Politik Tanjung Jabung Timur]



























