Jakarta, PONTAS.ID – Ekonom senior dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri, mengungkapkan, Indonesia akan mengalami defisit energi pada tahun 2021 mendatang. Adapun kata Faisal, defisit tersebut salah satunya terjadi akibat lambatnya pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
“Tak hanya itu, defisit juga terjadi karena terus menurunnya produksi minyak dan gas bumi nasional, serta lesunya industri pertambangan batu bara karena turunnya harga komoditas,” beber Faisal, saat diskusi bersama awak media, di Jakarta, Senin (29/7).
Faisal melanjutkan, saat ini, era kejayaan sektor migas Indonesia sudah benar-benar berakhir setelah tahun 2013. Sebelumnya, ekspor migas Indonesia benar-benar diperhitungkan, namun kini yang terjadi sebaliknya, dimana impor minyak Indonesia ‘gila-gilaan’.
“Kita harus waspada, karena defisit energi sudah di depan mata. Defisit energi akan mengakselerasi jika kita tidak melakukan apa-apa,” bebernya.
“Defisit energi bisa mencapai USD80 miliar atau 3 persen PDB pada 2040,” sambungnya.
Lebih jauh, menurut Faisal, yang terpenting saat ini adalah Pemerintah perlu melakukan langkah yang benar-benar konkret. Soal program B20 dan B30 yang selama ini digadang-gadang, nyatanya baru bisa mengurangi impor solar sekitar 20%.
“Yang bisa kita lakukan adalah memajukan penggunaan EBT. Sudah saatnya juga kita ekspansi ke luar negeri lewat Merger dan Akusisi (M&A). Cadangan minyak China meningkat terus karena melakukan akuisisi ladang-ladang minyak di berbagai negara,” jelasnya.
Kemudian soal mobil listrik, Faisal mengatakan, program akan berdampak positif untuk menekan defisit migas, tapi kata diam bisa saja meningkatkan defisit impor mobil dan baterai.
“Namun, bagaimana pun kita mendukung mobil listrik. Sekalipun demikian, dominasi pengganaan fossil fuels akan tetap besar,” katanya.
Ia pun memperkirakan bahwa setidaknya sampai tahun 2040 mobil listrik belum bisa meredam secara signifikan krisis energi.
“Jadi, yang jadi kunci utama adalah pembenahan migas di dalam negeri. Sampai 2040 dunia masih sangat bergantung pada minyak, gas, danbatu bara,” pungkasnya.
Pengembangan EBT Harus Diseriusi
Senada dengan Faisal, pakar energi terbarukan dari Universitas Brawijaya (UB), Nurhuda, mengatakan, Pemerintah saat ini harus berani melakukan terobosan dalam mengatasi defisit energi, terutama migas, caranya yakni dengan pemanfaatan EBT.
“Dulu penggunaan EBT seperti gasohol dan biodisel sempat marak, tapi sekarang merosot. Pemerintah perlu melakukan leap of faith, karena kita sudah menjadi net importer country. Utang luar negeri sudah kelewat besar, jangan segan-segan buat terobosan. Mungkin awalnya ditolak, tapi nanti juga akan diterima karena bermanfaat,” papar Nurhuda, saat dikonfimasi.
Setali tiga uang dengan Nurhuda, Anggota Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian, menuturkan, pengembangan EBT juga dinilai sebagai solusi tepat mengatasi masalah pelik di sektor energi ini. Selain mengoptimalkan EBT, menurutnya, penggunaan gas dalam negeri juga harus dimaksimalkan.
“Ekspor kita kan tidak terlalu membanggakan. Jadi seharusnya bisa mengembangkan EBT yang bisa diproduksi di dalam negeri. Lalu, mengoptimalkan penggunaan gas,” tandas dia.
Penulis: Riana
Editor: Stevanny




























