Menpar Harapkan Pariwisata Garut Berkembang Setelah Pengaktifan Kembali Jalur Kereta Api

Jakarta, PONTAS.ID – Sektor pariwisata di Kabupaten Garut, Jawa Barat, diharapkan dapat berkembang signifikan setelah pengaktifan kembali jalur kereta api Bandung-Cibatu, serta infrastruktur jalan menuju Situ Bagendit.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya menjelaskan bahwa konektivitas bagi sektor pariwisata menjadi kunci sukses sebuah destinasi wisata, untuk berkembang lebih cepat.

“Konektivitas yang dibangun pemerintah memungkinkan kelancaran pergerakan barang dan manusia sehingga terdapat kemudahan akses dunia luar ke daerah wisata dan sebaliknya,” kata Arief dalam siaran pers Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Senin (6/5/2019).

Dia menambahkan, bahwa konektivitas daerah wisata seperti di Garut tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran nilai budaya, lingkungan dan ekonomi, serta mendorong investasi lokal dan internasional.

“Pengalaman wisatawan juga menjadi komponen penting dalam pengembangan wisata untuk mendorong kunjungan kembali para wisatawan serta menaikkan jumlah belanja di daerah wisata,” ujar Arief.

Dia juga menyebut, saat ini pemerintah telah mengimplementasikan berbagai program seperti akses wi-fi gratis, wisata kesehatan, dan program UMKM Jawa Barat di daerah wisata Situ Bagendit.

“Siapa yang berani meragukan keindahan Garut. Ini destinasi yang luar biasa. Garut memiliki nature dan culture yang sangat luar biasa. Juga dilengkapi dengan wisata sejarah, ada juga wisata religi. Garut sangat besar potensinya,” tutur Arief.

Pemerintah memang memandang sektor pariwisata sebagai sektor strategis dalam pengentasan kemiskinan. Sektor ini sangat terkait dengan beragam sektor lainnya yang bersifat padat karya, serta melibatkan usaha masyarakat berskala mikro dalam jumlah masif.

“Pariwisata sebagai alat penyumbang PDB (Produk Domestik Bruto), devisa, dan lapangan kerja yang mudah dan murah. Penilaian ini merupakan perbandingan dari mahalnya biaya investasi negara yang harus dikeluarkan untuk peningkatan sektor migas,” imbuhnya.

Maka agar masyarakat dapat memanfaatkan program pengembangan wisata untuk meningkatkan taraf hidup, pemerintah melalui Program Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) hadir memberikan program pembiayaan, pelatihan, dan pendampingan kepada pengusaha Ultra Mikro di daerah wisata.

Pembiayaan UMi merupakan program pembiayaan kepada masyarakat usaha mikro pada lapisan terbawah yang tidak memiliki akses perbankan. Jumlah plafon pembiayaan ini paling banyak 10 juta rupiah per nasabah. Program pembiayaan ini adalah tahap lanjutan dari bantuan sosial menuju kemandirian usaha, serta merupakan komplementer program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sejak pertama kali diluncurkan pada pertengahan 2017 hingga 22 April 2019, secara nasional, pembiayaan UMi telah disalurkan kepada 931.173 debitur, dengan total penyaluran mencapai 2,49 triliun rupiah. Untuk Kabupaten Garut, Pembiayaan UMi telah menjangkau 15.058 debitur dengan total penyaluran lebih dari 35 miliar rupiah.

Pemerintah menyadari pengembangan usaha sektor mikro memerlukan kerja sama berbagai pihak, antara lain dengan mengajak pengusaha yang tergabung dalam KADIN, IWAPI, dan APINDO berkolaborasi dalam pengembangan sektor mikro melalui pelibatan usaha mikro dalam rantai pasokan, pemberian pendampingan, dan pembukaan akses pasar, serta berkontribusi dalam pendanaan melalui pendekatan investasi berdampak sosial atau Social Impact Investment (SII).

Penulis: Risman Septian
Editor: Idul HM

Previous articleIronis! Pemkab Sergai Permainkan Buruh Tani
Next articleBuru Teroris Terafiliasi ISIS, Polri: Incar Momentum Pemilu