Pakar Konstruksi Tolak Wacana Tunda Proyek Infrastruktur Karena 3 Hal Ini

Pakar manajemen konstruksi, Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak

Jakarta, PONTAS.ID – Beberapa hari terakhir ini, cukup ramai dibahas tentang beberapa proyek konstruksi dalam hal ini proyek infrastruktur yang berpotensi ditunda karena semakin melemahnya nilai rupiah.

“Apakah kita setuju dengan hal ini?
Jawaban saya tegas, ‘tidak setuju!'” kata Guru Besar dan Ketua Program Studi S2 Teknik Sipil Konsentrasi Manajemen Proyek Konstruksi Universitas Pelita Harapan, Prof. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, melalui keterangan tertulisnya kepada PONTAS.id, Selasa (11/9/2018).

Adapun yang menjadi pertimbangan Manlian adalah terkait beberapa hal penting kajian kritis dirinya tentang hal ini, yaitu:

1.Ekonomi Terkendali
Menurut Manlian, kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih terkendali. Indikator hal ini dapat dicermati secara Makro dan Mikro. Secara Makro, tidak hanya negara Indonesia yang terdampak menguatnya Nilai Dolar US.

Beberapa negara lain juga tercatat menurun nilai mata uangnya terhadap nilai mata uang Dolar US. Selain itu, secara makro internasional, belum ada pernyataan kondisi “economy gap” yang kritis yang berdampak krisis ekonomi global. Secara mikro,

“Pemerintah belum menyatakan terbuka tentang krisis ekonomi di tengah nilai 1 Dolar US tembus di angka Rp 14.700. Selain itu hal tentang ekonomi mikro di seluruh daerah di Indonesia juga tercatat masih terkendali,” terang dia.

2.Komitmen Bersama
Proyek Infrastruktur kata Manlian, adalah Komitmen Negara Indonesia bukan saja Komitmen Pemerintah.

Oleh karena itu seluruh elemen bangsa Indonesia harus berkomitmen mendukung program ini. Dia percaya bahwa Proyek Infrastruktur berbasis “Perencanaan” yang sudah dikaji dari awal. Pemerintah sudah lebih dulu mengidentifikasi berbagai potensi risiko yang mungkin terjadi termasuk melemahnya nilai Rupiah.

“Pemerintah sudah lebih dulu menganalisis dan mampu mengambil tindakan korektif terhadap melemahnnya Nilai Rupiah,” ungkap Manlian.

3.Respon Cepat Pemerintah
Ditegaskan Manlian, dalam prinsip “Kontrak Konstruksi” sebagai proses pengalihan risiko, dirinya meyakini bahwa risiko melemahnya Nilai Rupiah sudah diprediksi dari awal proyek.

Proyek Konstruksi sebagai Investasi, tidak akan dibiarkan berhenti. Ini komitmen. Walaupun Indonesia masih bergumul dengan Form of Contract, acuan kontrak yang digunakan di Indonesia mampu mengalihkan risiko.

Jadi secara optimis, lanjut Manlian, dirinya masih percaya Proyek Konstruksi dalam hal ini Proyek Infrastruktur di Indonesia belum dipengaruhi oleh Nilai Rupiah yang melemah terhadap Dolar US.

Respon Pemerintah yang cepat untuk mengurangi import, meningkatkan jumlah ekspor utk memperkuat nilai Rupiah, dan budaya kita yang pro Rupiah, akan mampu mengoptimalkan keberlanjutan penyelenggaraan proyek infrastruktur di Indonesia.

Respon Pemerintah yang juga merevisi Proyek Strategis Nasional adalah berfokus tentang “prioritas”. Mengutamakan ekspor daripada impor, hal itu berdasarkan skala prioritas.

“Jadi jika ada beberapa proyek non infrastruktur didahulukan penyelesaiannya dibandingkan Proyek Infrastruktur, hal itu juga tentang prioritas bukan berarti ditunda,” kata Manlian menutup.

Editor: Hendrik JS

Previous articleDPR Berharap Kecelakaan Lalu Lintas Diminimalisir
Next articleJelang IMF-WB Annual Meetings 2018, Paket Wisata Siap Dipasarkan