Jakarta, PONTAS.ID – Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno secara tegas mengajak pelaku industri energi global untuk menanamkan modal di sektor panas bumi Indonesia.
Dalam paparannya, Eddy menegaskan bahwa Indonesia menyimpan potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW)—salah satu yang terbesar di dunia—namun baru sekitar 10 persen yang dimanfaatkan.
“Potensi besar ini belum tergarap maksimal. Ini adalah peluang emas bagi investor global untuk masuk dan berperan langsung dalam transisi energi bersih Indonesia,” tegas Eddy.
Geothermal Jadi Kunci Stabilitas Energi Nasional
Eddy menekankan bahwa di tengah meningkatnya penggunaan energi terbarukan yang bersifat intermiten seperti surya dan angin, Indonesia membutuhkan sumber energi bersih yang mampu berfungsi sebagai baseload.
“Geothermal berbeda. Ia beroperasi 24 jam, tidak bergantung cuaca, dan mampu menjaga stabilitas jaringan listrik. Inilah energi bersih yang bisa diandalkan,” ujarnya.
Menurut Eddy, keunggulan ini menjadikan geothermal sebagai tulang punggung penting dalam sistem ketenagalistrikan nasional, khususnya untuk menopang kebutuhan energi di wilayah dengan permintaan tinggi.
Super Grid dan Kepastian Regulasi Jadi Daya Tarik Investor
Eddy juga memaparkan komitmen pemerintah dalam membangun infrastruktur transmisi listrik skala besar (super grid) yang menghubungkan pusat-pusat energi terbarukan dengan pusat konsumsi, terutama Pulau Jawa. Infrastruktur ini dinilai krusial agar potensi geothermal dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dari sisi kebijakan, Eddy menegaskan bahwa pemerintah telah memberikan kepastian hukum jangka panjang melalui sejumlah regulasi strategis, termasuk Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Energi Terbarukan dan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon.
“Regulasi ini tidak hanya memberi kepastian investasi, tetapi juga membuka sumber pendapatan tambahan melalui pasar karbon. Ini meningkatkan kelayakan finansial proyek geothermal,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah bersama DPR terus mempercepat revisi regulasi untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan ramah bagi pengembangan energi bersih.
Geothermal sebagai Mesin Ekonomi Hijau
Eddy menutup paparannya dengan menegaskan posisi strategis geothermal bagi masa depan Indonesia.
“Dengan kebijakan yang konsisten, infrastruktur yang memadai, dan kolaborasi internasional yang kuat, geothermal akan menjadi tulang punggung ketahanan energi sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia,” pungkasnya.
Forum strategis ini turut dihadiri tokoh-tokoh energi dunia, di antaranya Deputi Badan Internasional Energi Terbarukan (IRENA) Francesco La Camera, Managing Director Morgan Stanley Vikas Bharathwaaj, Wakil Menteri Kebijakan Iklim dan Pertumbuhan Berkelanjutan Belanda Frederik Wisselink, serta para pemangku kepentingan global lainnya.




























