Penanganan Stunting Harus Jadi Kepedulian Bersama

Lestari Moerdijat
Lestari Moerdijat

Jakarta, PONTAS.ID – Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan,menekan angka stunting di Tanah Air harus menjadi kepedulian semua pihak, karena hanya dengan anak dan generasi muda yang berkecukupan gizi, Indonesia mampu mewujudkan bangsa yang tangguh dan unggul di masa datang.

“Kita harus bisa memastikan bahwa anak dan generasi muda kita mendapatkan gizi yang baik untuk memenuhi target pembangunan berkelanjutan nomor 2 pada 2030 mengakhiri kelaparan, juga terkait stunting,” kata Lestari saat membuka diskusi daring bertema Mewaspadai Kerawanan Gizi Anak Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (3/11/2021).

Itu berarti, jelas Lestari, ada waktu delapan tahun bagi Indonesia untuk memenuhi target pravelensi stunting di bawah 20%, sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang merupakan bagian dari salah satu target pembangunan berkelanjutan untuk mengakhiri kelaparan pada 2030.

Rerie, sapaan akrab Lestari, mengatakan, jumlah kasus stunting di Indonesia pada 2019 mencapai 27,67%. Angka itu berhasil ditekan dari 37,8% pada 2013. Namun, ujarnya, angka tersebut masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan WHO, yaitu kurang dari 20%.

Kondisi pandemi, ungkap anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, bahkan menghasilkan pertambahan 1,12 juta keluarga pra sejahtera yang berpotensi meningkatkan angka stunting. Kondisi tersebut, ujarnya, membutuhkan kerja keras semua pihak, para pemangku kepentingan dan masyarakat, untuk menekan angka stunting di Tanah Air.

Sementara itu, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengungkapkan, secara umum di dunia sebenarnya terjadi penurunan angka stunting. Namun, di sejumlah negara, termasuk Indonesia, angka stunting masih berada di atas standar WHO. “Banyak negara mampu menekan angka stunting 1% hingga 2% per tahun. Kita juga harus mampu merealisasikan hal itu,” ujarnya.

Menurut Hasto, banyak hal yang menyebabkan angka stunting meningkat, yaitu tingginya angka putus sekolah, pernikahan muda, serta angka kematian ibu dan anak yang tinggi. Kuncinya, tegas Hasto, berbagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi sangat penting.

Dengan tingkat pravelensi stunting yang tinggi di Indonesia, menurutnya, untuk mencapai stunting sesuai standar WHO pada delapan tahun mendatang, berarti harus tercapai penurunan angka stunting 5% per tahun. “Sebuah angka penurunan yang belum pernah terjadi selama ini. Ini tugas berat dan perlu dukungan semua pihak,” ujarnya.

Pakar Ilmu Gizi yang juga Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal berpendapat, stunting terjadi karena anak mengalami kekurangan gizi kronis dalam waktu lama. Kecukupan gizi dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak merupakan langkah strategis yang harus dilakukan.

Menurutnya, saat ini Indonesia adalah negara peringkat lima besar penyumbang anak stunting di dunia.

Dalam diskusi yang dimoderatori Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI Arimbi Heroepoetri itu hadir sebagai narasumber Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, Rektor Universitas Yarsi Fasli Jalal, Widya Leksmanawati Habibie dari The Habibie Center, Co-Founder & Executive Director of 1000 Days Fund Zack Petersen, dan peneliti The SMERU Research Institute Nurmala Selly Saputri.

Hadir juga Lisda Hendrajoni dari Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai NasDem dan Bendahara II PP Nasyiatul Aisyiyah, Nur Wahidatul Muflihah, yang juga Project officer program stunting kerja sama dengan IMA WH untuk daerah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sebagai penanggap.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Pahala Simanjuntak

Previous articleBamsoet Dukung Jenderal Andika Perkasa Sebagai Panglima TNI
Next articleGenjot Prestasi 19 Cabor, Wabup Tegal Gelar Porkab