Jakarta, PONTAS.ID – Generasi Emas 2045 merupakan sebuah wacana, dan gagasan dalam rangka mempersiapkan para generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi. Diseminasi gagasan itu gencar dilakukan untuk menginspirasi generasi muda agar lebih bersemangat dalam belajar dan berkarya di segala bidang.
Dan demi menyongsong Indonesia Emas 2045 itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI terus berupaya menjadikan Indonesia menjadi negara maju, berdaulat dan berkelanjutan. Hal tersebut dapat terwujud dengan mengoptimalisasikan peran generasi muda melalui kepemimpinan dan pengaruh di tingkat global.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyokong agar generasi muda mampu beradaptasi dan berinovasi agar tidak tertinggal dalam kompetisi global yang berkembang pesat.
Generasi muda harus mampu menjadi kekuatan pendobrak yang mengubah tantangan menjadi peluang dan menjadikan peluang sebagai keberhasilan guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Derasnya arus perubahan global dapat dirasakan, ketika kita belum sepenuhnya selesai berurusan 11 era revolusi industri 4.0, kita sudah dihadapkan pada era society 5.0. Karenanya, peningkatan kompetensi generasi muda sebagai sumberdaya pembangunan harus menjadi prioritas utama,” ujar Bamsoet sapaan akrabnya.
Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, generasi muda dituntut mampu mengoptimalkan peran penting generasi muda dalam menjalankan fungsi sosial politiknya. Antara lain sebagai kontrol sosial, agen perubahan, kekuatan moral, penjaga nilai kebangsaan serta sebagai penerus kepemimpinan nasional di masa depan.
“Sebagai kontrol sosial, generasi muda berperan untuk memperjuangkan keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat agar tidak terjadi kesenjangan dan ketimpangan sosial. Generasi muda dituntut mempunyai kejelian dalam melihat dan menyelami realitas sosial yang terjadi di sekitar, mendorong terwujudnya kesetaraan dan kesinambungan pembangunan untuk mengikis disparitas sosial dan kesenjangan kesejahteraan,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia ini menuturkan, sebagai agen perubahan, generasi muda adalah katalisator yang mendorong lahirnya perubahan ke arah perbaikan dalam segala dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Generasi muda dituntut untuk dapat bersikap kritis, berpikir visioner dan melihat jauh ke depan, serta mempunyai daya kreasi dan imajinasi yang kuat mengenai kondisi ideal yang dicita-citakan.
“Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda adalah sumberdaya potensial bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Generasi muda bangsa diharapkan tumbuh menjadi ‘manusia-manusia tangguh’ yang mampu menjawab berbagai tantangan dan dinamika zaman. Pemuda tidak hanya sekedar cerdas dan terampil, tetapi juga berkarakter dan berwawasan kebangsaan,” pungkas Bamsoet.
Manfaatkan Bonus Demografi
Hal senada juga dikatakan, Wakil Ketua MPR Yandri Susanto yang mengajak para generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas pada tahun 2045. Menjelang tahun emas, Indonesia perlu menyiapkan modal dengan memanfaatkan bonus demografi.
Menurutnya, bonus demografi bisa membawa masalah bila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, ia mendorong Generasi Muda Emas Indonesia agar menjadi garda terdepan dalam menyongsong masa depan.
“Mari kita bersama dan bersatu untuk mempersiapkan masa depan,” ujar Yandri.
Lebih lanjut, Yandri menjelaskan dalam menyongsong masa depan, ada tantangan yang perlu dijawab oleh . Salah satunya terkait persoalan kaum muda yang kini ketergantungan pada media sosial.
“Problem minuman keras dan narkoba juga banyak yang menjerat anak muda,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Yandri, masih melimpahnya barang impor yang masuk ke Indonesia juga menjadi tantangan yang perlu dihadapi. “Bila dibiarkan akan menjadikan bangsa ini tergantung pada bangsa lain,” paparnya.
Melihat masalah tersebut, Yandri pun mendukung generasi muda emas Indonesia untuk memberdayakan desa-desa di Indonesia. Sebab, bila setiap desa memiliki badan usaha maka segala kebutuhan bisa dipenuhi dari dalam negeri. “Sehingga kita tak perlu impor,” paparnya.
Yandri mengatakan masyarakat harus dapat mengelola potensi alam dan sumber secara mandiri sehingga tidak bergantung dengan impor.
“Potensi tersebut jangan sampai dinikmati oleh orang lain,” ungkapnya.
Jadi Kekuatan Besar
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, Indonesia merdeka bukan hanya karena peran orang tua namun di sana juga ada peran generasi muda. Sebab, dahulu Generasi muda secara aktif melibatkan diri, memikirkan dan memperjuangkan juga mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Keterlibatan generasi muda disebut mulai dari tahun 1920 an. Seperti dengan Sumpah Pemuda dimana dari aktivitas tersebut melahirkan sosok-sosok muda yang memperjuangkan dan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Sejarah perjalanan bangsa dan keterlibatan kaum muda itu, menurut Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, harus dipahami oleh generasi muda dari kalangan milenial, gen Z dan lain-lain, agar mereka mampu terus berkontribusi memajukan, menyelamatkan, dan mengisi kemerdekaan dan berkobtribusi mewujudkan cita-cita reformasi,” katanya.
Saat ini menurut HNW tantangan generasi muda adalah menghadapi 100 Tahun Indonesia Merdeka yang jatuh pada tahun 2045. Di masa itu disebut Indonesia akan menikmati bonus demografi. Agar bonus demografi benar-benar bisa membawa kemaslahatan Bangsa dan Negara, maka perlu dipersiapkan dengan wawasan empat pilar MPR dan praktik bermegara yang baik dan benar.
“Jangan sampai bonus demografi diisi oleh generasi muda yang tidak mengerti tentang sejarah Indonesia dengan empat pilar MPR nya,”tegasnya.
Menurut pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu generasi muda yang mengisi bonus demografi juga harus paham Empat Pilar MPR. Hal demikian ditekankan agar generasi muda yang mengisi bonus demografi tidak salah arah. Itu bisa dilakukan dengan memahami empat pilar MPR dan mengamalkannya dalam kehidupan secara konstruktif dan dinamis.
Untuk itulah, MPR lanjut HNW terus mensosialisasikan kepada generasi muda agar mereka menjadi kekuatan besar untuk memajukan bangsa. Bila generasi muda saat ini mampu membuat bonus demografi sesuai cita-cita bangsa dan tuntutan reformasi maka mereka mampu mengimplementasikan cita-cita kemerdekaan Indonesia termasuk cita-cita reformasi.
Lebih lanjut dikatakan, cita-cita reformasi juga sangat luhur. Disana ada semangat untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme: menegakan hukum dan demokrasi, memberi ruang kebebasan berekspresi, dan membatasi masa periode jabatan presiden.
Diakui, HNW, cita-cita reformasi itu sudah banyak dilupakan oleh generasi muda padahal mereka adalah produk dari reformasi. “Untuk itu penting sekali menyadarkan kembali cita-cita reformasi”, tegasnya.
Generasi muda sekarang hidup dalam masa serba mudah dalam berkomunikasi. Akibat yang demikian membuat mereka memiliki problem kebangsaan seperti melupakan sejarah. Alumni Universitas Madinah, Arab Saudi, itu menuturkan generasi muda tidak boleh melupakan masa lalu di mana di saat itu ada peran generasi muda.
Diingatkan agar mereka memahami jati diri dan melanjutkan peran sejarah generasi muda pada masa lalu. “Tokoh-tokoh muda masa lalu menjadi inspirasi generasi muda saat ini”, paparnya. “Generasi muda saat ini harus bisa menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya sehingga bonus demografi benar2 berarti positif untuk menyambut Indonesia Emas 2045”pungkasnya.
Generasi Muda yang Memimpin
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan, di masa Indonesia Emas 2045, pemimpin bangsa adalah anak-anak muda kalangan generasi milenial dan Generasi Z di masa sekarang.
Menko PMK mengatakan, generasi muda saat ini lebih unggul dibandingkan generasi pemimpin pada usia yang sama dengan mereka. Hal tersebut dikarenakan kemudahan mengakses informasi dan pengetahuan, serta paparan teknologi yang mumpuni sejak dini.
“Karena itu kita harus menyerahkan masa depan Indonesia ini kepada yang muda-muda. Itu suatu titah sunatullah yang tidak bisa kita hindari,” ujarnya.
Lebih lanjut, Muhadjir menyatakan, Indonesia Emas 2045 tinggal menyisakan waktu yang sebentar. Karena itu, menurutnya, generasi muda harus menyiapkan diri sebaik-baiknya menyongsong masa emas negara Indonesia.
Generasi muda, kata Menko PMK, harus menyiapkan diri dengan cara yang produktif, yaitu dengan mengasah intelektual, mencari skill kemampuan baru yang bisa berguna dalam profesi, serta harus melek dalam urusan politik
“Tahun 2045 itu tinggal 22 tahun, dan kalian usianya nanti sekitar 40. Usia yang matang bagi generasi produktif dan intelektual. Jadi kalian harus menyiapkan betul apapun pilihan profesi kalian,” ujarnya. (***)


























