HNW Ajarkan Kiat Sukses Menjadi Santri Dan Politisi untuk Membangun Negeri

Purwakarta, PONTAS.ID- Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid di depan para Kiyai, Ustadz dan ratusan Santri dari Pesantren Baitul Quran  Cirata Purwakarta menyampaikan kiat-kiat sukses sebagai Santri yang berprestasi dan  berkontribusi tinggi membangun peradaban Negeri. Dimulai dengan terus mengasah sikap peduli dan mensyukuri, karenannya HNW mengajak semua Santri untuk hadirkan keprihatinan dan duka mendalam atas  rentetan bencana alam yang terjadi di negeri kita Indonesia. Mulai dari gempa bumi dan tanah longsor di Cianjur, gempa bumi Garut dan Jember, banjir, hingga kembali erupsi gunung Semeru. Hidayat mengingatkan bahwa musibah yang bisa terjadi di mana saja dan menimpa siapa pun. Di masjid, sekolah, rumah sakit hingga pondok pesantren dapat terkena imbas dari bencana alam.

“Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa bencana alam ini. Peduli terhadap korban2 bencana dengan terbiasa membantu mereka dengan yang yang kita bisa apakah dana, tenaga atau doa. Itu hal yang sangat diperlukan. Tapi juga bersyukur bila Pesantren dan Santri diselamatkan Allahdari bencana. Karena dengan bersyukur maka jiwa para Santri diisi dg ideologi yg positif yang akan menjaga karunia Allah yang ada dan bahkan akan menambah dan melipat gandakan nikmat dan karunia Allah dalam segala bidang kehidupan. Agar itu terwujud, bersyukur hendaknya bukan sekedar life service maupun pembuka pidato, tapi rasa syukur yang menjadi bagian dari ideologi dan akidah Islam,” kata Hidayat Nur Wahid saat berkunjung ke Pondok Pesantren Baitul Qur’an Cirata, Kampung Rawatutut RT 13 RW 07, Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Rabu (7/12/2022).

Pada kesempatan itu Hidayat mengingatkan para santri di Pesantren Baitul Quran, agar berorientasi sukses meniti karier dan berkontribusi membangun Umat dan Negara, sebagaimana arahan alQuran, dimulai dengan komitmen dan keseriusan untuk terus membaca memperluas wacana tapi tetap dalam koridor kebenaran dan kemanfaatan, mengokohkan pribadi2 dengan karakter dan akhlak yang terbaik, terus mendekatkan diri kepada Allah dzat segala kebaikan dan kebajikan, dengan qiyamullail dll, dan berorientasi menyebarluaskan nilai dan laku kebaikan dan kebenaran serta peradaban berkeunggulan seperti ini kepada masyarakat luas, Itulah yang diajarkan oleh AlQuran pada surah pertama, kedua, ketiga dan keempat yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Agar para Santri penghafal alQuran juga bisa berkontribusi menghadirkan mengamalkan ajaran alQuran dengan hadirkan kembali pribadi dan generasi unggul yaitu “khaira ummat” , yang risalah kehidupannya untuk berkolaborasi hadirkan Islam yang rahmatan lil alamin, agar negeri yang mereka diami yaitu Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafuur. HNW mengajak para Santri penghafal alQuran agar bisa menjadi teladan kesuksesan dengan menjadikan dinamika ajaran2 alQuran diatas tadi sebagai hal yang bukan hanya dihafalkan tapi dipraktekkan, agar ujung terakhir dari ajaran alQuran yaitu hadirnya ridha Allah dan sukses yang hadirka kemenangan yang penuh berkah,  jauh dari ideologi apalagi tindakan  terorisme, radikalisme, ekstremisme. Karena ujung akhir dari ajaran alQuran yaitu ayat ke 3 dari surah al Maidah maupun surah anNashr, sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, bukan hal2 negatif destruktif seperti itu, melainkan hadirnya sukses dan kemenangan peradaban yg diridhai Allah dan bermanfaat untuk kelangsungan dan kemajuan peradan umat Manusia.

Membaca, menurut anggota Komisi VIII DPR RI, ini  adalah peradaban yang membawa keunggulan.

“Dan dalam konteks Indonesia, kalau semua kiat diatas sudah dilakukan, maka  dari pesantren kembali dapat memunculkan pahlawan dan tokoh2 bangsa yang sangat terhormat dan berjasa  kepada bangsa dan negara, karena perjuangan mereka bersama tokoh2 bangsa lainnya, hadirkan Indonesia merdeka dan tetap merdeka mengganggalkan skenario kembali penjajahan asing maupun pemberontakan PKI. Apalagi fakta di Indonesia sekarang ini, tidak ada lagi bidang kehidupan dan profesi yang tidak bisa dimasuki alumni Pesantren. Ada Santri yang jadi Presiden, Menteri, gubernur, bupati. Ada santri yang jadi Ketua/pimpinan MPR, MK dan lembaga negara lainnya. Ada santri yang mendirikan Pesantren atau jadi rektor, pebisnis dllnya. Dan itu semua makin terbuka bagi santri penghafal alQuran dengan spirit positif yang saya sebutkan di atas. ,” pungkas Hidayat.

Sebelumnya, saat memberikan kata  sambutan atas kedatangan Wakil Ketua MPR, pendiri Pesantren Baitul Qur’an menyampaikan rasa hormat  dan bangga  atas kehadiran Hidayat Nur Wahid. Bagi Dr. KH. Muslikh Abdul Karim MA, HNW adalah santri dan politisi yang patut dicontoh. Menguasai ilmu agama dan sukses terjun di kancah politik. Pernah menjadi Ketua MPR, dan saat ini menjabat wakil ketua MPR. Hidayat Nur Wahid  mendapatkan suara pemilih, melebihi kebutuhannya untuk menjadi Anggota Legislatif.

“Tirulah Ustad Hidayat Nur Wahid, santri yang menguasai ilmu agama,  sekolah di Madinah, dan sukses jadi politisi. Dengan meniru rekam jejak beliau, semoga ke depan akan ada banyak santri yang menguasai ilmu agama dan  berhasil menjadi politisi yang bermanfaat untuk Umat dan mengabdi untuk Negeri. bahkan menjadi presiden, atau gubernur, bupati dan walikota,” kata Dr. KH. Muslikh Abdul Karim MA lagi.

Ikut hadir pada pertemuan tersebut, pendiri Pondok Pesantren Baitul Qur’an Cirata, Dr. KH. Muslikh Abdul Karim MA, Dewan Pembina Yayasan Baitul Qur’an, ustad Muhamad Muslikh LC, Ketua yayasan Baitul Qur’an Ustad Yasin Hasan LC, Pimpinan Ponpes Baitul Qur’an Cirata ustad Yusuf Hadi LC, serta para ustad ustadzah dan para santri Baitul Qur’an.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Pahala Simanjuntak

Previous articleHIPPI Harus Tumbuhkan Pengusaha Menengah
Next articlePemerintah Perlu Tegas Lakukan Law Enforcement Penanggulangan Kebencanaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here