Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) menyelenggarakan Pelatihan Pembesaran Ikan Lele Sistem Bioflok bagi masyarakat di 4 (empat) Kabupaten, yakni Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Kabupaten Malaka.
“Pelatihan bertujuan untuk memasyarakatkan sistem bioflok dalam kegiatan perikanan budidaya yang membantu dalam efisiensi dan produktivitas budidaya lele,” ujar Kepala Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), Sjarief Widjaja dalam keterangan resminya yang diterima PONTAS.id, Selasa (21/4/2021).
Menurutnya, Lele merupakan jenis ikan yang diminati masyarakat Indonesia. Namun, kapasitas media pembesaran dan pakan ikan lele kerap menjadi permasalahan yang dialami pembudidaya, sehingga produktivitas panen komoditas satu ini sulit dioptimalkan. Sebab itu pihaknya menggelar pelatihan lele sistem bioflok karena memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan budidaya ikan dengan sistem konvesional.
“Sistem bioflok lebih efisien dari budidaya lele dengan cara konvensional. Dengan sistem bioflok, budidaya bisa diterapkan di lahan sempit dan kolam yang kecil, memiliki padat tebar yang tinggi dan kolamnya tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Tak hanya itu, budidayanya dapat dilakukan pada tempat tertutup, lebih hemat lahan, air dan pakan, serta produktivitasnya tinggi,” imbuhnya.
Pelatihan secara serentak dilaksanakan pada 19-20 April 2021 menggunakan metode blended learning melalui sambungan zoom agar tetap mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19. Difasilitasi oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Banyuwangi, pelatihan diikuti oleh 150 orang peserta dari keempat kabupaten dengan rincian sebanyak 40 pembudidaya hadir dari Kabupaten Kupang, TTU dan TTS serta sebanyak 30 peserta lainnya merupakan pembudidaya dari Kabupaten Malaka.
“Sistem bioflok, ditumbuhkan mikroorganisme pengolah limbah budidaya di dalam kolam pembesaran ikan yang berfungsi mengolah limbah budidaya menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang disebut sebagai flok. Flok tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami lele,” jelasnya
“Selain itu, ikan yang dibudidayakan dengan sistem bioflok dagingnya juga lebih hiegenis dan memiliki rasa lebih enak,” tutup Sjarief.
Untuk itu, para peserta dibekali dengan materi pengelolaan media bioflok, pengelolaan benih, pengelolaan tingkat kehidupan ikan, pengelolaan kesehatan ikan dan pemanenan ikan. Materi yang runut dari hulu ke hilir ini diharapkan akan menjadi kompetensi penunjang bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha budidayanya.
Penulis: Rahmat Mauliady
Editor: Pahala Simanjuntak




























