Akibat Covid-19, DPR: Indonesia Dibayangi Krisis Ekonomi dan Perbankan

Anis Byarwati
Anis Byarwati

Jakarta, PONTAS.ID – Anggota Komisi XI DPR, Anis Byarwato menilai, pandemi Covid-19 tidak hanya sudah menyebar ke seluruh provinsi di tanah air tetapi juga membayangi terjadinya krisis perbankan di Indonesia.

Dalam keterangan persnya, Senin (13/4/2020). Anis mencermati, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berupa Non Performing Loan (NPL) Gross perbankan per Februari 2,79 persen dan NPL Net 1.00. Dan, NPL ini diprediksi akan meningkat disebabkan pandemic virus Corona. Kemudian NPL berdasarkan sektor ekonomi yang berada di atas 3 persen per Februari 2020 adalah sektor akomodasi 5,66 persen, Industri Pengolahan 4,22 persen, Perdagangan 3,99 persen, Pertambangan 3,83 persen, dan konstruksi 3,81 persen.

Walau Februari 2020 NPL tak menyentuh lima persen, data ini memberikan gambaran kondisi sebelum terjadi Pandemi Covid-19 di Indonesia yang menyiratkan sektor akomodasi, Industri pengolahan, perdagangan, pertambangan dan konstuksi memiliki risiko untuk mengalami peningkatan NPL lebih banyak dibandingkan rata-rata sektor lain. Data LPS berupa NPL perbankan yang terus naik ini menandai kondisi perekonomian dan perbankan Indonesia yang menurun dan diprediksi akan semakin turun dengan adanya krisis karena pandemi.

Anis berpendapat paparan LPS menyatakan, Indikator Trigger krisis LPS adalah terjadinya Pergerakan Dana Pihak Ketiga (DPK) antar kelompok buku, tren peningkatan suku bunga simpanan, tren peningkatan nilai transaksi Pasar Uang Antar Bank (PUAB), terjadinya pergerakan DPK keluar dari sistem perbankan dan Pegergerakan protofoloio trade finance individual bank relative terhadap trade finance industri.

Pada kesempatan tersebut, politikus PKS ini meminta penjelasan LPS terkait indikator itu berikut dengan ukuran kuantitatif dan kualitatifnya. Penjelasan LPS sangat diperlukan untuk memberikan gambaran tentang kondisi kesiapan Pemerintah, khususnya LPS dalam mengantisipasi krisis ekonomi dan perbankan yang disebabkan pandemi Covid-19.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Riana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here