New York, PONTAS.ID – Harga minyak naik hingga 15% pada perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Adapun, Brent mencatat lompatan terbesar lebih dari 30 tahun di tengah rekor volume perdagangan.
Kenaikan harga minyak ini dipengaruhi setelah ladang minyak milik Saudi Aramco di Arab Saudi mendapat serangan dari pesawat tak berawak (drone) pada Sabtu (14/9/2019) lalu. Pemberontak Houthi Yaman pun mengaku jadi dalang di balik serangan yang melibatkan 10 unit pesawat tanpa awak atau drone tersebut.
Serangan tersebut meningkatkan ketidakpastian di pasar yang relatif tenang dalam beberapa bulan terakhir. Namun sekarang, pasar merasa kehilangan minyak mentah dari Arab Saudi, yang secara tradisional menjadi pemasok di dunia.
Indeks volatilitas pasar minyak pun mencapai level tertinggi sejak Desember 2018. Oleh karena itu, aktivitas perdagangan berharap harga yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, ditutup pada USD 69,02 per barel, naik USD 8,80. Kenaikan sebesar 14,6% menjadi persentase terbesar sejak 1988.
West Texas Intermediate (WTI) berjangka AS berakhir pada USD 62,90 per barel, melonjak USD 8,05. Kenaikan sebesar 14,7% menjadi persentase terbesar sejak Desember 2008.
“Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi datang sebagai kejutan. Saya pikir tabel tiba-tiba bergeser di jalan prospek pasokan dan menangkap banyak orang yang lengah,” papar Analis Pasar Energi St. Paul Tony Headrick, dilansir dari Reuters, Selasa, (17/9/2019).
Penulis: Ririe
Editor: Stevanny


























